Rabu, 16 Mei 2012

Jamur Tiram Jenis Baru

Tiga jamur tiram terunggul.Produktivitas membubung hingga 91 ton per 1.000 m2 luas kumbung, hampir dua kali lipat produksi tiram strain lokal.

Ketiga strain baru itu adalah emas, ratu, dan zafira hasil penelitian periset di Balai Penelitian Tanaman Sayuran, yakni Dr Etty Sumiati MS, Ir Diny Djuariah, Dr Ahsol Hasyim, dan Dr Eri Sofiari. Pada pengujung 2011, mereka merilis tiga strain baru itu sehingga memberi secercah harapan bagi para pekebun jamur tiram yang kini marak di berbagai daerah. Para pekebun itu memanfaatkan strain lokal dan menuai rata-rata 200 g jamur per kg substrat (baglog) dalam waktu 3 bulan.

Salah satu penyebab rendahnya produksi adalah kualitas bibit yang tidak terseleksi. Jika mereka beralih membudidayakan strain jamur tiram unggul, emas, ratu, atau zafira, peluang meningkatkan produksi terbuka lebar. Sekadar contoh, produktivitas emas, misalnya, mencapai 91 ton per 1.000 m2. Di kumbung seluas itu, pekebun dapat membudidayakan 180.000 baglog berbobot satu kg jika posisi baglog berdiri, sementara jika berbaring, 260.000 baglog atau produktivitas antara 350—500 gram per baglog.

Produksi stabil

Menurut Etty secara akumulasi tidak ada perbedaan produksi yang signifikan antara baglog berdiri dan berbaring jika strain sama. Posisi baglog berdiri menghasilkan tudung tiram merekah sempurna sehingga bobot bisa maksimal, di atas 500 gram per baglog berbobot 1 kg. Produksi sebuah baglog berbobot 1 kg dengan posisi berbaring hanya 350 gram. Namun, karena populasi meningkat 80.000 baglog dari posisi berdiri, maka secara keseluruhan produktivitas per kumbung pun tinggi.

Mari bandingkan dengan strain lokal. Pada posisi baglog berdiri, menghasilkan 300 gram per baglog atau total 57 ton dari total jenderal 180.000 baglog. Namun, ketika posisi baglog berbaring, maka produksi sebuah baglog rata-rata berbobot 1 kg, hanya 200 gram. Dari uji coba itu, terbukti bahwa ketiga strain jamur tiram baru memang unggul, produksi membubung, di atas 300 g per kg baglog dengan posisi berdiri. Jika bobot sebuah baglog rata-rata 1 kg, maka produksi pun meningkat menjadi di atas 500 gram.

Hebatnya produksi itu stabil sepanjang tahun. Artinya budidaya tiram strain emas pada musim hujan atau kemarau, pekebun akan menuai produksi yang relatif sama. Strain emas mempunyai daya adaptasi luas dari suhu udara 10—270C itu dan masa produksi panjang hingga 3,8 bulan. “Diameter buah pun besar mencapai 8—9,71 cm,” tutur Etty.

Strain ratu mampu beradaptasi dari suhu 10—250C. Produksi ratu mencapai 51,22—81,94 ton per 1.000 m2. Tipe tudung buah strain ratu menyerupai terompet yang lentur sehingga tidak mudah pecah. Waktu awal panen strain ratu hanya 38 hari dan rentang masa produksi mencapai 3,9 bulan. Kadar air ratu 91,62—93,75% sehingga ratu tahan simpan 2—3 hari pada suhu ruangan.

Rendah oke

Strain tiram lain, zafira yang adaptif pada suhu 10—250C, mampu berproduksi 50,48—78,70 ton per 1.000 m2. Tudung buah zafira amat lentur dan berbentuk tiram. Strain zafira mulai berproduksi 37 hari pascainokulasi dan masa produksinya 3,8 bulan. Ketiga varietas itu beradaptasi baik dari ketinggian 700—1.250 meter di atas permukaan laut. Menurut Etty, peluncuran 3 strain tiram unggul itu merupakan kali pertama dalam sejarah budidaya jamur di Indonesia. “Sebelumnya belum pernah ada varietas unggul tiram,” kata Etty.

Para pekebun tiram di dataran rendah tetap dapat membudidayakan trio tiram unggul itu. “Syaratnya menyediakan lingkungan mikro yang sesuai untuk tumbuh kembang tiram,” kata Etty. Tiram menghendaki suhu 10—270C agar tumbuh optimal, kelembapan di atas 80%, dan intensitas cahaya 10% alias remang-remang. Jika semua kondisi itu terpenuhi, ketinggian tempat bukan masalah untuk membudidayakan strain tiram unggul itu.

Etty dan rekan memulai riset tiram unggul pada 2003. Saat itu mereka menguji daya hasil dan daya kualitas 78 strain tiram introduksi. Hasil pengujian antara lain, produksi relatif tinggi, yakni di atas 300 g per kg substrat, konsumen menyukai cita rasa, penampilan menarik, dan tahan simpan 2—3 hari dalam suhu kamar, sekitar 270C. Dari pengujian itu, mereka menetapkan 5 strain unggul berkode 1, 30, 37, 38, dan 46 yang akan menjalani uji multilokasi.

Uji multilokasi pada 2009 itu di 4 lokasi, yakni Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, berketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut; Desa Lebakmuncang, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, (1.000 m dpl), dan Desa Tangkil, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor (700 m dpl). Ketiga sentra jamur itu di Provinsi Jawa Barat. Satu area lagi adalah Desa Gentingsari, Kecamatan Bansari, Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah, berketinggian 850 m dpl.

Etty sejatinya sudah membagikan strain emas kepada pekebun dan pihak terkait di seluruh Indonesia. Para pekebun yang baru mendengar kabar pun tak ketinggalan antusias menyambut kehadiran tiram unggul itu. Pekebun tiram di Indramayu, Jawa Barat, Ito Sumitro, misalnya, berencana memanfaatkannya. Produksi menjulang tinggi memang menjadi daya tarik bagi para pekebun tiram. (Faiz Yajri)

Sumber artikel dan gambar : trubus-online.co.id dengan judul "Tiram Baru Panen Dua Kali Lipat".


Sabtu, 05 Mei 2012

Meningkatkan Produksi Jamur Tiram

Satu hal lagi yang menarik bagi saya, ternyata ada beberapa cara yang cukup 'unik' untuk meningkatkan produksi jamur tiram, diantaranya yaitu dengan cara disuntik. Cara tersebut dan beberapa cara lain telah dimuat di situs trubus-online.co.id pada tanggal 3 juni 2010 dengan judul: "Tiram Disuntik Jadi Produktif", pada artikel tersebut, disebutkan ada beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk mendongkrak/meningkatkan produksi jamur tiram. Diantara adalah sebagai berikut:

1. Disuntik

Prof Dr Ir Agus Sugianto ST. MP. bukan seorang praktikus medis. Namun, sejak 2003 dekan Fakultas Pertanian Universitas Islam Malang itu akrab dengan alat suntik. Alat itu bukan untuk menyuntikkan obat kepada pasien, melainkan ramuan nutrisi ke dalam baglog jamur tiram.

Agus menyuntikkan 20 ml nutrisi ramuannya pada media yang telah disterilisasi. Setelah itu, bibit jamur tiram diinokulasikan ke dalam media, lalu disimpan di ruang inkubasi. Pada 30 hari pascaperlakuan, baglog berbobot 1,5 kg itu sudah bisa dibuka untuk menumbuhkan tubuh buah, biasanya 45 hari. Karena masa produksi lebih awal, maka jumlah jamur yang dipanen hingga akhir produksi (biasanya 6 bulan, red) lebih tinggi. ‘Pengalaman pekebun hasil panen meningkat hingga 68,7%,’ katanya.

Ramuan nutrisi itu terbuat dari larutan molase alias limbah pengolahan gula. Satu mililiter molase dengan kadar gula rata-rata 30 - 40% dilarutkan dalam 100 ml air atau konsentrasi 1%. Agus juga menambahkan ragi, vitamin, dan protein untuk memacu pertumbuhan.

Menurut Agus, sel-sel pada jamur tiram memerlukan karbon berantai 6 (C6) untuk pertumbuhan. Kebutuhan karbon itu memang bisa dipenuhi dengan mengurai serbuk kayu dan dedak yang menjadi bahan utama media jamur. Sayang, ‘Susunan karbon serbuk kayu masih terlalu kompleks sehingga butuh waktu lebih lama hingga siap dimanfaatkan,’ ujar Agus. Dengan ramuan itu, Agus memberikan karbon dari gula reduksi yang lebih sederhana sehingga lebih cepat dimanfaatkan untuk pertumbuhan jamur. 

2. Rel kereta 

Di Blitar, Jawa Timur, Agoes Poernomo memanfaatkan getaran dari kereta api yang melintas di dekat lokasi kumbung dan alunan musik. Kombinasi kedua cara itu meningkatkan produksi jamur hingga 4%.

Ide nyeleneh itu terinspirasi kebiasaan waktu kecil. ‘Kata orangtua kalau ada jamur tumbuh di musim hujan, injak tanah di sekitar tumbuh jamur sekeras-kerasnya beberapa kali. Keesokan hari biasanya muncul jamur-jamur baru,’ kata Agoes. Agoes memanfaatkan getaran dari kereta api dan musik untuk merontokkan basidiospora yang terdapat pada lamela di bagian bawah tudung jamur.

Basidiospora yang jatuh di permukaan baglog akan berkecambah membentuk miselium monokariotik alias miselium berinti satu. Miselium itu terus tumbuh hingga membentuk jalinan hifa mirip benang. Hifa itu akan menyatu dengan hifa lain yang kompatibel membentuk hifa dikariotik. Bila kondisi lingkungan memungkinkan (suhu antara 10 - 20oC, kelembapan 85 - 90%, cahaya cukup, dan kadar C02 <1.000 ppm), akan terbentuk tubuh buah.

Menurut Ir NS Adiyuwono, praktikus jamur tiram di Bandung, Jawa Barat, pemanfaatan getaran atau goncangan untuk mendongkrak produksi jamur sudah diterapkan pekebun di Singapura disebut dengan teknologi shifting. Mereka memindahkan baglog setiap hari. Saat pemindahan itu baglog ikut tergoncang sehingga banyak spora jatuh. Cara itu diadopsi para pekebun tiram di Majalengka, Jawa Barat. Hasil pengamatan Adiyuwono, cara itu mempercepat munculnya tubuh buah 2 hari. 

3. Lantunan Al-Quran 

Menurut Agus Sugianto, gelombang suara dari musik menggetarkan molekul udara. Molekul udara yang bergetar akan menggetarkan molekul udara lain. Pada saat yang sama terjadi perpindahan energi antarmolekul. Energi itulah yang memacu metabolisme sel-sel jamur. ‘Penyerapan nutrisi dan aktivitas enzim yang dihasilkan jamur semakin optimal,’ kata guru besar bidang ilmu bioteknologi jamur pangan itu.

Agus membuktikan peran gelombang suara terhadap pertumbuhan jamur. Ia menyetel beragam aliran musik seperti pop dan dangdut, serta lantunan ayat suci Al-Quran di dalam ruang inkubasi. Volume suara diatur hanya separuh dari volume maksimum pada tape. ‘Frekuensinya tidak lebih dari 400 hertz,’ kata Agus.

Hasil penelitian menunjukkan baglog jamur yang diberi lantunan ayat suci saat inkubasi memacu pertumbuhan miselium lebih cepat ketimbang jenis musik lain dan kontrol. Pada hari ke-15, miselium sudah merata di sekujur baglog sehingga bisa dibuka untuk menumbuhkan tubuh buah. Sedangkan baglog kontrol alias tanpa perlakuan butuh waktu 45 hari. Belum diketahui pasti duduk perkara lantunan ayat suci memacu pertumbuhan miselium lebih cepat. ‘Mungkin frekuensi lantunan ayat suci paling ideal bagi pertumbuhan jamur,’ kata Agus. 

4. Medan magnet 

Di Bandung, Jawa Barat, Dr I Nyoman Pugeg Aryantha, ahli jamur dari Sekolah Teknologi Ilmu Hayati Institut Teknologi Bandung (ITB), meneliti peran medan magnet bagi pertumbuhan jamur. Baglog yang sudah diselimuti miselium disimpan dalam inkubator medan magnet yang terbuat dari kumparan solenoida. Kumparan dialiri arus listrik untuk membangkitkan medan magnet.

Hasil penelitian menunjukkan hasil panen dari baglog yang terpapar medan magnet selama 1 bulan, lebih tinggi 50 - 69% dibanding kelompok kontrol. ‘Medan magnet berpengaruh terhadap sintesis protein tertentu yang memacu pertumbuhan tubuh buah jamur tiram,’ kata doktor mikologi dari Universitas Melbourne di Australia itu. Beragam cara itu menjadi pilihan bagi pekebun untuk mendongkrak produksi jamur. ‘Tinggal pilih mana yang lebih ekonomis,’ tutur NS Adiyuwono. (Imam Wiguna/Peliput: Faiz Yajri)
  1. Molase, sumber karbon sederhana untuk mempercepat pertumbuhan jamur
  2. Gelombang suara tingkatkan metabolisme sel sehingga aktivitas enzim dan penyerapan nutrisi optimal
  3. Medan magnet mempengaruhi sintesis protein tertentu yang memacu pertumbuhan tubuh buah jamur tiram
  4. Doktor I Nyoman Pugeg Aryantha, dosen Sekolah Tinggi Ilmu Hayati ITB, dongkrak produksi jamur dengan medan magnet 
Semoga bermanfaat..!!!

Sumber gambar: http://www.trubus-online.co.id/images/resized/images/stories/media044/hal-18-19-3_200_200.jpg


Jumat, 27 April 2012

Jamur Tiram Sistem Gantung

Sebanyak 15 baglog ditumpuk dengan interval sebuah cincin plastik berdiameter 11 cm. Tumpukan baglog itu disatukan dengan seutas tali plastik yang lazim dimanfaatkan untuk jemuran pakaian. Keistimewaan teknologi itu adalah efisiensi lahan. Bayangkan populasi kumbung alias rumah tanam jamur 21 m x 8 m mencapai 44.000 baglog; sistem konvensional, 13.000. Artinya populasi naik 338%. Itulah temuan baru Muhammad Attamimi, pekebun jamur di Ciwidey, Bandung.

Hanya itu kelebihan sistem gantung? Ternyata tidak. Dengan meningkatnya populasi kemungkinan besar juga terjadi lonjakan produksi. Apalagi Atamimi membuka kedua ujung baglog, tindakan yang kian melambungkan produksi. Secara konvensional, pekebun jamur hanya membuka baglog bagian atas lantaran posisi baglog berdiri. Nah, dengan sistem baru posisi baglog tidur sehingga kedua sisinya dapat dibuka.

Ini kelebihan lain: panen 2 bulan lebih cepat. Pada sistem konvensional paling cepat pekebun memetik tiram pada umur 4 bulan. Namun, dengan sistem “tidur” panen lebih cepat lantaran pertumbuhan batang jamur terhambat. Dampaknya, “Pertumbuhan tudung jamur lebih cepat karena tidak terkena matahari langsung,” ujar Attamimi kepada Trubus.

Saat batang tumbuh, ia akan membengkok mencari matahari. Setelah batang menghadap matahari, fase pertumbuhan batang pun terhenti. Lalu berlanjut pada fase pertumbuhan tudung. Selama 5—12 hari pin head atau tudung keluar dari masa inkubasi 30 hari. Seminggu—dua minggu berikutnya jamur siap panen. Dengan menidurkan baglog intensitas serangan hama juga menurun drastis. Musababnya, serangga jauh lebih sulit meletakkan telur-telurnya di baglog lantaran posisinya miring.

Produksi naik

Ia pertama kali mencoba teknologi itu pada Juni 2004. Panen perdana pada Agustus 2004 dengan total produksi 30—50 kg per hari. Dengan begitu produksi rata-rata per baglog mencapai 1,5—2 kg. Bobot rata-rata baglog 2 kg sehingga produktivitas 70—100%. Produktivitas sistem konvensional sekitar 70% dari bobot baglog. Umur produksi baglog sekitar 3—4 bulan, meskipun dapat diperpanjang hingga 9 bulan.

Cara membuatnya pun mudah. Pertama, potong bambu dengan ukuran 2,5 m x 2 m. Buat seperti palang ayunan. Selanjutnya, siapkan tali yang sebelumnya telah direndam dalam formalin 1% selama 1 hari.

Tujuannya untuk sterilisasi atau mensucihamakan. Ukurannya berkisar 10—12 m. Lilitkan tali di bambu. Buat sampai panjang tali menjadi 2 m. Satu palang bambu memuat 20—25 potongan tali. Kemudian, di sepanjang tali letakkan 15 cincin plastik yang dipesan khusus di sebuah produsen plastik. Langkah selanjutnya masukkan baglog di setiap cincin sehingga baglog akan menggantung dan bertingkat.

Padat

Ide menggantung baglog jamur tiram diperoleh dari kebiasaan pekebun jamur kuping Auricularia auricula. Sayang, pekebun jamur kuping memanfaatkan rak bambu yang cepat rusak. Dengan sistem baru, Attamimi tak membuat rak-rak untuk menampung baglog. Sebagai gantinya ia membuat tiang dari bambu setinggi 2 m. Panjang tiang 2,5 m. Tiang itu mampu menampung 23 baglog yang disusun vertikal (lihat grafi s).

Total jenderal ia mempunyai 9 kumbung dengan luasan berbeda. Tujuh kumbung masing-masing berukuran 21 m x 12 m dan 2 kumbung berukuran 21 m x 8 m. Di dalam kumbung berukuran 21 m x 8 m itu terdapat 126 tiang dengan daya tampung sama. Tiang-tiang dari bambu itu mampu bertahan hingga 8 tahun. “Saya terdesak waktu itu. Penanam modal mau uangnya cepat kembali. Jadi harus putar otak cari cara percepat produksi,” ujar sarjana pertanian alumnus sebuah perguruan tinggi di Bandung itu.

Cara baru itu dianggap lebih praktis. Misalnya pada sistem konvensional untuk membuat rak-rak memakan waktu 4 bulan. Namun, dengan sistem gantung, ia hanya butuh waktu 1—2 hari untuk mendirikan tiang-tiang gantung. Jadi amat menghemat waktu.

Lagi pula untuk membuat tiang-tiang gantung biayanya, “Murah, cuma Rp5-juta-an,” kata ayah 2 anak itu. Sedangkan untuk membuat rak-rak pada sistem konvensional mencapai Rp20-juta. Sudah begitu paling banter umur produksi rak hanya 3 tahun. Lagi-lagi pekebun jamur dapat menghemat besar-besaran.

Cara baru

Keunggulan lain sistem gantung memudahkan pemeliharaan. Dengan baglog horizontal pembersihan dan pengaturan kelembapan lebih mudah. “Sebaiknya setelah 4—6 kali panen, baglog diganti dengan yang baru supaya terhindar dari hama dan penyakit,” ujar pria 45 tahun itu. Setelah itu baglog lama dikeluarkan. Lakukan sanitasi dengan merendam kembali tali dalam formalin. Keesokan harinya masukkan baglog baru.

Cara serupa juga diadopsi Jajat Sudrajat dari Citi Mandiri, pekebun di Sukabumi, Jawa Barat. Pria berusia 49 tahun itu tetap membangun rak untuk meletakkan baglog. Hanya saja posisi baglog horizontal alias tidur. Itu dilakukan atas saran seorang rekan dari Intitut Teknologi Bandung. Dalam kumbung 9 m x 9 m ia menaruh 9.000—10.000 baglog. “Dengan posisi tidur, 40 hari setelah inokulasi bisa langsung panen,” ujarnya.

Jamur tiram tumbuh baik pada suhu 20oC. Jika suhu di atas itu, harus dilakukan pengabutan. “Sebaiknya waktu mengabut jangan mengenai baglog. Cukup siram lantai atau pakai sprayer supaya kembali ke suhu semula,” ujar Jajat.

Bila suhu di bawah 20oC, media agak dikerik supaya benih tumbuh. Cara itu akan susah diterapkan bila posisi baglog vertikal. Dengan horizontal perlakuan itu lebih mudah. (Lastioro Anmi Tambunan)

Sumber: trubus-online.co.id dengan judul Tiram Gantung Produksi Melambung

Sabtu, 21 April 2012

Membuat Pupuk Kompos dari Baglog Jamur

Limbah baglog atau media jamur tiram yang sudah tidak produktif jika tidak dimanfaatkan akan menjadi sampah yang menumpuk dan mengotori lingkungan.  Saat ini banyak petani jamur yang sudah mulai memanfaatkan limbah baglog tersebut menjadi sesuatu yang mempunyai nilai tambah bahkan dapat dijadikan sebagai usaha tambahan.  Pemanfaatan limbah baglog tersebut antara lain untuk media ternak belut, media ternak cacing dan bahan baku pupuk organik.

Pada tulisan kali ini saya baru memanfaatkan limbah baglog sebagai bahan baku pupuk organik, sesuai dengan pengalaman yang sudah saya lakukan. Pupuk organik yang saya buat dari campuran kotoran ternak dan limbah baglog jamur menggunakan teknik bokhasi, yaitu menggunakan EM4 atau effective microorganisme untuk mempercepat proses pengomposan bahan pupuk tersebut.  Caranya adalah sebagai berikut :
Bahan Baku :
  • Kotoran ternak 100 kg
  • Limbah baglog 250 kg
  • EM4 350 ml
  • Gula 1/4 kg
  • Dedak 10 kg
  • Air secukupnya.
Cara Pembuatan :
  1. Gula dilarutkan dalam air kemudian campurkan dengan EM4
  2. Bahan - bahan (kotoran ternak, dedak dan limbah baglog) dicampur sampai merata
  3. Campurkan larutan EM4 ke campuran bahan tersebut dan aduk hingga tercampur sempurna.  Untuk menentukan tingkat kadar air dapat di cek dengan cara mengepal campuran tersebut dan jika tidak ada air yang menetes saat dikepal dan bahan tetap menggumpal, berarti kadar air sudah cukup.
  4. Setelah tercampur merata, campuran ditumpuk menyerupai gunungan dengan ketinggian 1 meter.
  5. Tutup dengan terpal atau penutup lainnya.  setiap hari campuran tersebut diaduk untuk mendinginkan panas yang dihasilkan dari proses fermentasi, kemudian ditumpuk lagi.
  6. Proses fermentasi hingga pupuk matang selama 7 - 10 hari. 
  7. Jika sudah dingin pupuk sudah dapat digunakan.
Demikian cara pembuatan pupuk organik dari limbah baglog jamur tiram dengan tehnik bokhasi. Pupuk yang dihasilkan tersebut selain digunakan sendiri juga dapat kita kemas dan dijual ke pehobi tanaman hias atau untuk pertanian sehingga dapat menghasilkan penghasilan tambahan seperti yang sudah saya lakukan. Semoga bermanfaat bagi para pembaca.

Sumber artikel: http://jamurperwira.blogspot.com/2011/05/pupuk-organik.html
Sumber gambar: http://jongjava.com/web/images/stories/ragam/tekno/nov-09/kompos.jpg

Jumat, 20 April 2012

Limbah Baglog, Media Budidaya Belut

Kabar baik bagi petani jamur tiram, limbah baglog jamur tiram ternyata banyak manfaatnya. Bisa dibaca pada postingan yang telah lalu yang berjudul: Pemanfaatan Limbah Media Jamur Tiram. Adapun pada postingan kali ini, kita akan mengupas manfaat lain dari baglog jamur tiram, yaitu pemanfaatan limbah baglog sebagai media budidaya belut. Berikut artikel yang saya copas dari situs trubus-online.co.id dengan artikel yang berjudul "Bukan Lumpur, Tapi Baglog Jamur." Selamat mengikuti.

Sudah 2 minggu kolam 20 m2 itu kosong melompong. Eman Rahman, pemilik kolam di Lebakwangi, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, itu sulit mencari lumpur pengisi kolam agar ia segera dapat membudidayakan belut. Padahal, baglog jamur bekas bisa menggantikan lumpur seperti dilakukan Suparmo.

Suparmo, peternak di Desa Caringin, Kecamatan Balaraja, Tangerang, Provinsi Banten, memanfaatkan baglog-media tanam jamur-bekas sejak awal Maret 2009. Untuk mengisi kolam semen berukuran 2,7 m x 2,6 m, ia memerlukan 500 baglog. Sebelum menjadi peternak belut, Suparmo lebih dulu berkebun jamur tiram. Ia mengelola sebuah kumbung jamur berukuran 9 m x 5 m berkapasitas 3.000 baglog. Mula-mula baglog bekas ia gunakan untuk memupuk terung. Melihat pertumbuhan Solanum melongena sangat pesat, ia tertarik mencoba pada belut.

Plastik-plastik pembungkus baglog ia lepaskan. Kemudian pria kelahiran Ciamis 17 November 1966 itu menghancurkan baglog dan menambahkan tanah halus serta kotoran kerbau matang. Porsi bekas media jamur itu 2 kali lipat ketimbang tanah. Campuran ketiga bahan itu ia aduk rata di dasar kolam. Di bagian atas campuran itu, Suparmo meletakkan cacahan batang pisang. Porsinya kira-kira 20%. Cacahan batang pisang mampu merangsang pertumbuhan rotifera sebagai pakan belut.

Adaptasi

Di bagian teratas, barulah ia menambahkan 20% jerami dan mengairi media. Air hanya macak-macak. Total jenderal ketebalan media dari dasar kolam hanya 20 cm. Komposisi media itu ia biarkan selama sebulan agar terjadi fermentasi.

Indikasi media siap pakai jika media tak beraroma busuk. Saat itulah pria 43 tahun itu menebar 20 kg bibit terdiri atas 100-112 ekor per kg. Panjang bibit rata-rata sejengkal tangan. Pekan pertama 215 bibit meregang nyawa. 'Kemungkinan stres karena transportasi dan beradaptasi dengan lingkungan,' kata Suparmo. Maklum bibit belut didatangkan dari Kuningan, Jawa Barat, berjarak lebih dari 400 km.

Pada pekan kedua, Suparmo mendapati kematian belut hanya 2-3 ekor. Setelah itu hingga pada pertengahan April 2009, umur bibit belut sebulan 19 hari, tak ada yang mati. Ayah 3 anak itu memberikan pakan berupa 0,5 kg ikan kecil dan cacahan kodok rebus. Selain itu kadang-kadang ia juga meletakkan ayam mati. Belut tidak makan ayam, tetapi magot alias belatung yang keluar dari bangkai ayam.

Ketika Trubus berkunjung ke kolam, Suparmo tengah mengecek pertumbuhan belut. Secara acak ia mengambil 20 belut di lokasi berbeda. Panjang Monopterus albus itu rata-rata bertambah 5-8 cm dari panjang awal 15-18 cm. Suparmo baru akan memanen serentak pada akhir Juni 2009 sehingga produktivitas belut di media jamur belum diketahui.

Pakan Alami
 
Ide Suparmo memanfaatkan baglog jamur merupakan terobosan baru. Selama ini peternak belut memanfaatkan campuran lumpur sawah dan pupuk kandang sebagai media belut. Yang pasti belut mampu bertahan dan berkembang di media baglog. Menurut Ade Sunarma, MSi, periset di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT), Sukabumi, Jawa Barat, penggunaan baglog sebagai media belut merupakan inovasi baru.

Menurut Sunarma media bekas jamur besar kemungkinan mempercepat pertumbuhan pakan alami. Alasannya, media itu lebih mudah terurai karena mengalami fermentasi dari serbuk gergaji, bekatul, dan biji-bijian. 'Apalagi ditambah gedebong pisang yang juga sudah busuk, proses fermentasi lebih cepat,' kata Sunarma. Dampaknya pakan alami lebih cepat tersedia sehingga memacu pertumbuhan belut.

Dengan ketersediaan pakan alami diharapkan belut tumbuh cepat dan seragam. Pertumbuhan yang seragam berarti juga mencegah kanibalisme. Menurut Sunarma keseragaman dipengaruhi faktor biologis dan perilaku. Secara biologis pertumbuhan jantan lebih cepat daripada belut betina. Meski demikian, peternak tak mampu memilih bibit jantan agar lebih dominan.

Soalnya, belut bersifat hemafrodit. Perubahan jenis kelamin secara menetap terjadi ketika belut berumur 3-4 bulan. Selain itu perilaku berebut pakan berpeluang membuat ketidakseragaman. Yang kuat berpeluang mendapat pakan lebih banyak. 'Namun, masih harus dikaji lebih lanjut seberapa besar kemampuan belut mengkonsumsi pakan,' kata Ade.

Penggunaan baglog bekas mempermudah peternak karena jumlahnya melimpah. Di Desa Kertawangi, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung, saja terdapat 400 pekebun jamur tiram. Setiap pekebun rata-rata mengusahakan 5.000-10.000 baglog. Ketika jamur tiram kian banyak diusahakan di berbagai kota, peluang untuk mendapatkan baglog bekas pun kian mudah. Selama ini baglog bekas hanya dibuang. Padahal, media apkir itu dapat menjadi hunian yang nyaman bagi belut. (Lastioro Anmi Tambunan)

Semoga bermanfaat..!!!

Sumber gambar:
http://www.trubus-online.co.id/images/resized/images/stories/media018/1832_200_200.jpg

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India