Tampilkan postingan dengan label Mengenal Jamur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mengenal Jamur. Tampilkan semua postingan

Siklus Hidup Jamur Tiram

Manusia mempunyai siklus hidup, yaitu dari bertemunya sel terlur (ovarium) dan sperma, sehingga terjadilah pembuahan yang akhirnya menjadi segumpal darah, dari segumpal darah selanjutnya menjadi jabang bayi,  dan setelah 9 bulan, lahirlah kita kedunia, dari masa bayi kemudian balita, dst... (kok ngelantur ya..? hehe). Jamur juga mempunyai siklus hidup yang harus kita pahami agar ditemukan teknologi-teknologi baru di bidang budidaya jamur seperti telah ditemukannya teknologi-teknologi baru di bidang 'budidaya' manusia, seperti inseminasi buatan dan bayi tabung.

Berikut tahapan siklus hidup jamur tiram yang saya ambil dari Buku Untung Besar dari Bisnis Jamur Tiram karya Suryani Rahmat, dan Nurhidayat, yang diterbitkan oleh Agro Media Pustaka. 


1. Pelepasan dan penyebaran spora (basidospora)

Spora jamur berukuran sangat kecil dan ringan. Spora yang telah matang akan lepas terbawa angin ketempat yang jauh atau jatuh ke tanah di sekitarnya.
 
2. Germinasi atau perkecambahan 


Jika tempat jatuhnya spora mendukung pertumbuhan jamur, maka spora akan tumbuh menjadi kecambah berupa helaian tipis yang disebut hifa. Berbeda halnya dengan spora yang jatuh di tempat yang kurang subur, spora tersebut tetap akan bertahan selama beberapa tahun. Pada saatnya, spora itu akan tumbuh menjadi jamur jika kondisi lingkungannya telah mendukung jamur untuk tumbuh. Itulah sebabnya, pada saat awal musim hujan ketika kelembaban udara mencukupi, sering ditemukan jamur tumbuh di kayu-kayu yang telah lapuk.

3. Pembentukan miselium 


Hifa yang tumbuh dari proses germinasi selanjutnya tumbuh dan bertambah panjang membentuk helaian yang menyerupai anyaman inilah disebut miselium jamur. Pada jenis jamur konsumsi, miselium jamur umumnya berwarna plutih bersih. Pada fase inilah jamur budi daya diperbanyak dan dijadikan sebagai bibit produksi.

4. Pembentukan tubuh buah 

Setelah miselium menyebar dan menutupi seluruh permukaan media tumbuh, selanjutnya akan muncul tunas-tunas jamur berbentuk menyerupai kancing. Dalam proses ini. Para ahli menyebutnya pin head atau primordial. Seiring waktu, tunas ini tumbuh membesar membentuk tubuh buah. Di bagian tubuh buah, terdapat tudung yang masih menguncup pada saat masih muda. Namun, ketika jamur tumbuh menjadi dewasa, tudung akan merekah dan melebar. Melalui proses perpanjangan batang (elongation), cawan dan tudung yang semula menyatu akan saling menjauh.

5. Pembentukan spora kembali 

Bagian bawah tudung jamur tersusun oleh bagian yang berbentuk garis-garis dari pangkal yang kemudian menyebar ke ujung tudung. Bagian ini disebut basidia, tempat jutaan spora jamur dihasilkan untuk selanjutnya menyebar. Dengan demikian, spora baru yang dihasilkan jamur dewasa siap menyebar kembali untuk memulai generasi jamur selanjutnya.

Sekian dan semoga bermanfaat..!!!

Batang, 5 Februari 2013

Kandungan Gizi dan Khasiat Jamur Tiram

Mungkin sudah banyak orang sudah mengetahui khasiat dari jamur tiram ini, karena jamur sudah dikenal oleh masyarakat luas. Jamur tiram memang mempunyai berbagai macam khasiat diantaranya adalah dapat menurunkan kolesterol dan darah tinggi, namun informasi tentang khasiat jamur tiram masih sebatas dari mulut ke mulut. Hemm, tentu kita harus tahu mengapa jamur tiram punya khasiat seampuh itu. Berikut penjelasannya:

Menurut Direktorat Jenderal Hortikultura Departemen Pertanian dalam Sumarmi (2006), jamur tiram mengandung protein rata-rata 3,5-4 % dari berat basah. Hal ini berarti dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan asparagus dan kubis. Jika dihitung dari berat kering, jamur tiram mengandung protein yang cukup tinggi yaitu sebesar 19-35%, apabila dibandingkan dengan produk makanan pokok lainnya, seperti beras yang hanya 7,3%, gandum 13,2%, kedelai 39,1%, dan susu sapi 25,2% . Jamur tiram juga mengandung 9 macam asam amino yaitu lisin, metionin, triptofan, threonin, valin, leusin, isoleusin, histidin dan fenil alanin. 72% lemak dalam jamur tiram adalah asam lemak tidak jenuh, sehingga aman dikonsumsi baik yang menderita kelebihan kolesterol (hiperkolesterol) maupun gangguan metabolisme lipid lainnya. 28% asam lemak jenuh serta adanya semacam polisakarida kitin di dalam jamur tiram diduga menimbulkan rasa enak. Menurut Listiyowati (2005), asam amino esensial jamur tiram sangat direkomendasikan untuk makanan diet sehari-hari.

Masih menurut Direktorat Jenderal Hortikultura Departemen Pertanian dalam Sumarmi (2006) menyatakan bahwa jamur tiram juga mengandung vitamin penting, terutama vitamin B, C dan D. vitamin B1 (tiamin), B2 (riboflavin), niasin dan provitamin D2 (ergosterol), dalam jamur tiram cukup tinggi. Mineral utama tertinggi adalah Kalium, Fosfor, Natrium, Kalsium dan Magnesium. Mineral utama tertinggi adalah : Zn, Fe, Mn, Mo, Co, Pb. Konsentrasi K, P, Na, Ca dan Me mencapai 56-70% dari total abu dengan kadar K mencapai 45%. Mineral mikroelemen yang bersifat logam dalam jarum tiram kandungannya rendah, sehingga jamur ini aman dikonsumsi setiap hari.

Menurut FAO (Food Agriculture Organisation) (1992) dalam Soenanto (2000), dalam setiap 100 gram jamur tiram mengandung: protein 13,8 gram, serat 3,5 gram, lemak 1,41 gram, abu 3,6 gram, karbohidrat 61,7 gram, kalori 0,41 gram, kalsium 32,9 gram, zat besi 4,1 gram, fosfor 0,31 gram, vitamin B1 0,12 gram, vitamin B2 0,64 gram, vitamin C 5 gram, dan niacin 7,8 gram.

Dilihat dari kandungan gizi yang terdapat dalam jamur tiram maka bahan ini termasuk aman untuk dikonsumsi. Adanya serat yaitu lignoselulosa baik untuk pencernaan. United States Drugs and Administration yang melakukan penelitian pada tikus menunjukkan bahwa dengan pemberian menu jamur tiram selama 3 minggu akan menurunkan kadar kolesterol dalam serum hingga 40 % dibandingkan dengan tikus yang tidak diberi pakan yang mengandung jamur tiram. Sehingga mereka berpendapat bahwa jamur tiram dapat menurunkan kadar kolesterol pada penderita hiperkolesterol. Di Jepang saat ini sedang diteliti potensi jamur tiram sebagai bahan makanan yang dapat mencegah timbulnya tumor (Sumarmi, 2006).

Menurut Bobek et. al (1998) dalam Widyastuti dan Istini (2004), jamur tiram sangat bagus untuk penderita jantung kardiovaskular dan untuk mengendalikan kolesterol. Jamur tiram berperan sebagai antitumor, antioksidan, dan menurunkan kolesterol. Chan dan Buswell (1996) dalam Widyastuti dan Istini (2004), menyebutkan jamur pangan tidak hanya lezat, juga berkhasiat berkat nutrisi yang tinggi dan mempunyai khasiat obat seperti antikanker, meningkatkan sistem kekebalan tubuh antidiabetes dan hipolipidemik. Redaksi Trubus melalui buku “Jamur Tiram Dua Alam” menyebutkan, hal serupa juga diungkapkan oleh Paul Stament, ahli jamur di Washington State University Departement of Agriculture, Jamur tiram juga bisa dimanfaatkan sebagai antibakteri, antiinflamasi, antiviral, tekanan darah, dan memberbaiki sistem imun.

Jamur yang dapat dikonsumsi selain kandungan gizi yang cukup tinggi, juga banyak manfaatnya bagi kesehatan. Jamur tiram mempunyai khasiat untuk kesehatan manusia sebagai protein nabati yang tidak mengandung kolesterol sehingga dapat mencegah timbulnya penyakit darah tinggi dan jantung serta untuk mengurangi berat badan dan diabetes. Kandungan asam folatnya (vitamin B-kompleks) tinggi sehingga dapat menyembuhkan anemia (kekurangan darah) dan obat anti tumor. Digunakan untuk mencegah dan menanggulangi kekurangan gizi dan pengobatan kekurangan gizi dan pengobatan kekurangan zat besi. Untuk terapi pengobatan sebaiknya tidak digoreng karena bisa menurunkan kadar vitaminnya dan zat-zat yang bermanfaat untuk penyembuhan penyakit (Alda et al., 2001).

Setelah mengetahui kandungan gizi dan khasiat jamur tiram, sekarang yang menjadi kendala adalah bagaimana kita bisa melakukan terapi pengobatan dengan jamur tiram untuk aneka penyakit kronis tersebut. Saya sudah cari-cari lewat buku maupun internet namun belum ketemu, mungkin teman-teman ada yang tahu?

Sumber:

Alda, E.R., D.R. Permana dan T. Pasaribu. 2001. Aneka Jamur Unggulan yang Menembus Pasar. Grasindo. Jakarta

Cahyana, Y.A., Muchroji dan M. Bakrun. 1999. Budidaya dan Analisis Usaha Jamur tiram. Penebar swadaya. Jakarta.

Listiyowati, S. 2005. Jamur Pangan Sebagai Alternatif Pengganti Daging Sapi Dan Efeknya Terhadap Budidaya Jamur di Indonesia. Makalah Falsafah Sains (pps 702). Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor

Soenanto, H. 2000. Jamur Tiram Budidaya dan Peluang Usaha. CV. Aneka Ilmu. Semarang

Sumarmi. 2006. Botani dan Tinjauan Gizi Jamur Tiram Putih. Jurnal Inovasi Pertanian. Vol. 4, No. 2, (124-130)

Widyastuti, N dan S, Istini. 2004. Optimasi Proses Pengeringan Tepung Jamur Tiram putih (Pleurotus Ostreatus). Jurnal Ilmu Kefarmasian Indonesia, April 2004, hal 1-4. Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Bioindustri, BPPT. Jakarta.

Habitat Hidup Jamur Tiram

Sebelum memulai budidaya jamur tiram, pelajari lebih dahulu karakteristik yang harus dipenuhi terhadap habitat atau kondisi lingkungan seperti apa jamur tiram dapat hidup dengan baik. Setiap tumbuhan membutuhkan persyaratan tumbuh yang berbeda, demikian pula jamur tiram. Hal ini dimaksudkan supaya jamur tiram dapat tumbuh secara optimal tanpa mengalami kegagalan.

Budidaya jamur tiram memerlukan kondisi lingkungan yang sesuai, baik temperatur (suhu), kelembaban, keasaman, cahaya, nutrisi, serta kandungan air. Semakin mendekati kondisi lingkungan yang alami, pertumbuhan jamur tiram semakin baik.

1. Lokasi 

Budidaya jamur tiram dapat tumbuh optimal sepanjang tahun di dataran yang letaknya antara 400m - 800m diatas permukaan laut (dpl). Sedangkan didaerah dataran rendah biasanya pertumbuhan jamur tiram tidak begitu baik. Hal ini dapat disiasati dengan membuat rumah jamur (kumbung) ditempat yang teduh dekat dengan pepohonan besar sehingga kelembapannya bisa tetap terjaga. 

2. Suhu udara

Pada budidaya jamur tiran suhu udara memegang peranan yang penting untuk mendapatkan pertumbuhan badan buah yang optimal. Pada umumnya suhu yang optimal untuk pertumbuhan jamur tiram, dibedakan dalam dua fase yaitu fase inkubasi yang memerlukan suhu udara berkisar antara 20 - 30 oC dan fase pembentukan tubuh buah memerlukan suhu udara antara lebih rendah atau sama dengan 26oC. 

Untuk mengetahui secara pasti keakuratan suhu, dapat menggunakan termometer dan disarankan jangan menggunakan perasaan, nanti akan berakibat fatal, atau pertumbuhan terganggu. Namun demikian, bagi pekebun yang sudah berpengalaman, tanpa bantuan termometer dapat diketahui apakah suhu sudah sesuai atau belum dengan menggunakan perasaan.

3. Kelembaban

Kelembaban udara berpengaruh pada pertumbuhan jamur tiram, cepat atau lambat, sehat atau tidak sehat pertumbuhannya. Kelembaban memegang peranan penting, sehingga harus diperhatikan. Pada saat inkubasi primordia dibutuhkan kelembaban udara sebesar 80-85% dan untuk pembentukan tubuh buah, membutuhkan kelembaban relatif 90-94%.

Meski demikian, jamur tiram cukup toleran terhadap kelembaban hingga 70%. Perbedaannya meskipun sama-sama hidup, tumbuh dan berkembang, namun kecepatan tumbuh dan kualitas yang dihasilkan akan berbeda. Cara yang paling tepat untuk memastikan tingkat kelembaban ini adalah dengan menggunakan higrometer.

4. Tingkat keasaman ( pH)

Tingkat keasaman media sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan jamur tiram. Apabila pH terlalu rendah atau terlalu tinggi maka pertumbuhan jamur akan terhambat. bahkan mungkin akan tumbuh jamur lain yang akan mergganggu pertumbuhan jamur tiram itu sendiri. Keasaman pH media perlu diatur antara pH 6 - 7 dengan menggunakan kapur (Calsium carbonat). Untuk mengukur secara tepat dan benar keasaman atau kebasaan, dapat menggunakan pH meter.

5. Kadar Air

Kandungan air dalam media pertumbuhan sangan berpengaruh terhadap pertumbuhan mesilium maupun perkembangan tubuh buah. Kandungan air substrat/media untuk pertumbuhan vegetatif jamur tiram bergantung pada jenis media yang dipakai. Pada media kayu utuh, kadar air optimum adalah 45-60% sedangkan dengan media serbuk gergajian diperlukan kadar air 60-75%.

6. Nutrisi

Seperti tumbuhan lainnya, jamur tiram juga membutuhkan nutrisi terutama sumber karbon, nitrogen, vitamin, dan mineral. Sumber karbon berupa senyawa pektin, hemiselulosa, dan pati. Sumber nitrogen dalam bentuk asam amino, ammonia, dan urea. Kadar nitrogen harus dalam konsentrasi yang tepat karena kadar yang berlebihan maupun kekurangan akan menghambat pertumbuhan. Kebutuhan vitamin dapat terpenuhi melalui penambahan biji-bijian atau dedak. Sedangkan mineral dapat dipenuhi dari air dan media dasar. 

7. Cahaya

Pertumbuhan misellium akan tumbuh dengan cepat dalam, keadaan gelap/tanpa sinar, Sebaiknya selama masa pertumbuhan misellium ditempatkan dalam ruangan yang gelap, tetapi pada masa pertumbuhan badan buah memerlukan adanya rangsangan sinar. Pada tempat yang sama sekali tidak ada cahaya badan buah tidak dapat tumbuh, oleh karena itu pada masa terbentuknya badan buah pada permukaan media harus mulai mendapat sinar dengan intensitas penyinaran 60 - 70 %. Cahaya yang diperlukan dapat diperoleh baik dari cahaya matahari maupun dari cahaya lampu.

Catatan: Jamur tiram juga bisa dibudidayakan di daerah panas, silahkan klik link berikut: 

Sumber gambar:
http://botit.botany.wisc.edu/toms_fungi/images/post2.jpg

Jamur Tiram Florida VS Jamur Tiram Oystern

Mungkin bagi sebagian orang awam atau pemula dalam budidaya jamur belum mengenal jenis jenis jamur, terutama jamur tiram. Seperti yang telah saya jelaskan dalam tulisan saya sebelumnya tentang Mengenal Berbagai Jenis Jamur Tiram, tapi kebanyakan adalah jenis jamur tiram florida, yang membedakan adalah hanya warnanya saja. 

Nah, sekarang bukan warnanya yang beda, tapi strukturnya juga beda. Anda bisa lihat gambar diatas, jamur tiram florida di sebelah kiri, sedangkan jamur tiram oystern (atau osteron) sebelah kanan.

Berikut ini perbedaan antara jamur tiram florida dan tiram oystern yang saya ringkas dari blognya mas Fithrawan Satriyanto  dan blonya mas Dyan Widyastanto. Berikut penjelasannya:

1. Jamur tiram florida tudungnya cenderung membentuk payung dan melebar, dan ukuran batang tidak besar. Sedangkan tiram oystern tudungnya menguncup ke atas dan tidak melebar, ada yang menyebutnya seperti terompet.

2. Ukuran batang jamur tiram oystern besar dan kokoh, sedangkan jenis jamur tiram florida ukuran batangnya relatif lebih kecil dan kurang kokoh.

3. Kisi-kisi bawah (sirip) jamur tiram florida relatif lebar, sedangkan kisi-kisi bawah (sirip) jamur jenis osteron lebih halus dan kecil daripada jenis florida. 

4. Kadar air optimal pada jamur tiram jenis florida cenderung tinggi, sedangkan kadar air jamur tiram jenis oystern relatif lebih sedikit. Ini yang menyebabkan oystern relatif lebih kesat dari pada jenis florida.

5. Karakteristik panen jamur tiram jenis florida cenderung stabil. Sedangkan karakteristik panen jamur tiram jenis oystern relatif kurang stabil. Pada saat banyak, panen cenderung bersamaan dan banyak, tetapi kemudian habis. 

6. Jamur tiram jenis florida sangat cocok untuk jenis sayuran. Sedangkan jamur tiram jenis osteron lebih banyak dimanfaatkan untuk olahan, seperti jamur crispy.

Nah, setelah Mengenal Berbagai Jenis Jamur Tiram, dan mengetahui perbedaan jamur tiram florida dengan oystern, maka langkah selanjutnya adalah memutuskan jenis jamur tiram apa yang mau dibudidayakan, apakah jamur tiram jenis florida atau jenis oystern, semua tergantung target pasar yang kita bidik. Silahkan survei pasar disekitar Anda. Semoga sukses (Oemah Jamur)

Sumber gambar:
http://dyanwidyastanto.files.wordpress.com/2011/02/img_07741.jpg?w=300&h=225

Mengenal Berbagai Jenis Jamur Tiram

Setelah kita mengetahui Peluang Usaha Budidaya Jamur Tiram dan Skala Usaha Budidaya Jamur Tiram, maka pada kesempatan kali ini saya ingin membahas tentang berbagai jenis jamur tiram yang dapat dibudidayakan. Saya ambilkan dari buku “Jamur Tiram Dua Alam, Dataran Rendah dan Tinggi” yang diterbitkan oleh Trubus dan buku “Jamur Tiram Budidaya dan Peluang Usaha” karya Hardi Soenanto. Selamat mengikuti.

Selama ini, jamur tiram yang dalam klasifikasi botaninya bernama pleurotus, yang kita kenal selama ini adalah jamur tiram putih. Padahal ada beberapa jenis jamur tiram selain jamur tiram putih yang bisa dibudidayakan, yaitu jamur tiram kuning, jamur tiram coklat, jamur tiram abu abu, jamur tiram merah/pink, jamur tiram biru, dll. Hadirnya jamur-jamur cantik itu berkat jasa Dr. Anton S.M. Sonenberg, ahli bioteknologi di Mushroom Research Unit, Belanda yang melakukan persilangan antar spesies Pleurotus. Hasilnya, muncullah berbagai warna jamur tiram. Berikut ini penjelasannya:

1. Jamur Tiram Putih 

Jamur tiram (Pleurotus ostreatus) atau white mushroom juga dikenal dengan istilah jamur shimeji (Jepang). Di antara anggota pleurotus, jamur inilah yang dikenal sebagai jamur tiram. Sekujur buah berwarna putih karena sporanya tak berwarna. Diameter tudung jamur dewasa antara 3 sampai 8 cm. Permukaan tudung licin dan agak berminyak.

Pada kondisi lembab tepiannya bergelombang. Rasanya enak, gurih, dan agak kenyal. Rasanya mirip daging ayam. Ia mudah menyerap zat sehingga bila diberi bumbu, maka rasanya pun mengikuti. Dari beberapa jenis jamur tiram, jamur tiram putih paling banyak dan populer dibudidayakan di Indonesia, serta paling banyak di jual di pasaran, baik pasar swalayan maupun pasar tradisional.

2. Jamur Tiram Kuning

Jamur Tiram Kuning (Pleurotus citrinipileatus) tudungnya berdiameter 2 sampai 5 cm berwarna kuning cerah bak emas sehingga dijuluki golden oyster alias jamur tiram emas. Saking cantiknya, banyak yang enggan memasak jamur kuning karena lebih senang memajang seperti tanaman hias. Padahal, rasanya nutty, seperti kacang mete, meski warna sedikit memudar ketika dimasak.

Ekstrak jamur tiram kuning bersifat antioksidan dan anthiperlipidemia. Jamur emas mengandung lektin yang berkhasiat anti tumor. Hasil penelitian di China, dengan memasukkan 5 mg lektin per bobot tubuh tikus pengidap sarkoma, mampu menghambat pertumbuhan tumor hingga 80%. Selain itu, ekstrak gilikoprotein dari jamur tiram kuning berdosis 12,5 mg/ml ampuh menghadang proliferasi sel kanker leukimia. Ia pun bisa dimanfaatkan sebagai afrodisiak, yaitu pembangkit gairah laki-laki.

3. Jamur Tiram Abu-Abu 

Tiram abu-abu (Pleurotus sayor caju) warna tudung atau tubuh buahnya abu-abu (shimeji grey), dengan diameter tudung antara 4 sampai 12 cm. Jumlah cabangnya agak sedikit. Mikologi penggolongannya sama dengan jamur tiram putih, perbedaannya hanya pada spesiesnya. Jamur ini agak sulit dtiemui di pasar dan amat sedikit yang membudidayakaannya. Kelebihan jamur tiram abu-abu adalah bercitarasa agak manis.


4. Jamur Tiram Merah

Jamur tiram merah (Pleurotus flabellatus) dijepang dikenal dengan nama sakura shimeji karena tudungnya berwarna kemerahan. Tudung atau tubuh buahnya agak tebal dan jumlah cabangnya dalam satu rumpun lebih sedikit. Diameter tudung antara 5 sampai 10 cm.

Sosok tiram merah muda tak kalah cantik. Warna pink terlihat jelas saat jamur masih muda dan perlahan memudar seiring pertambahan umur. Saat dimasak warnanya lekas hilang karena panas. Ahli kuliner memanfaatkan tiram merah muda sebagai pengisi salad supaya warna semarak. Ia bisa dimanfaatkan untuk mengobati penyakit yang berhubungan dengan darah.

5. Jamur Tiram Cokelat

Jamur tiram cokelat (Pleurotus cytidiosus) dikenal dengan nama jamur abalon. Warna tudungnya keabu abuan sampai abu abu kecoklatan. Diameternya antara 4 sampai 10 cm. Jamur tiram coklat lebih gurih dan dagingnya lebih segar dengan aroma yang cukup tajam. Jamur tiram cokelat mempunyai rumpun yang sangat sedikit dibandingkan dengan jamur tiram putih dan jamur tiram abu-abu, tetapi tudungnya lebih tebal dan daya simpannya lebih lama.


6. Jamur Tiram Raja
Jamur tiram raja (Pleurotus umbellatus) disebut juga king oyster. Jamur ini tidak bercabang sehingga tidak banyak individu yang terbentuk. Jamur tiram raja memiliki batang yang tebal dan memiliki tekstur yang kenyal dan rasa sedikit manis. Jamur tiram ini memiliki daya simpan yang lebih panjang dibandingkan dengan varietas jamur tiram lainnya.

Budidaya Jamur Tiram Raja telah berkembang pesat di Asia Tenggara selama dekade terakhir. Tahun 1993, perusahaan di Cina, Taiwan dan Jepang telah mulai memproduksi secara komersial jamur tiram yang lezat ini. Jamur Tiram King dijual segar di pasar lokal dan diekspor kering atau dalam stoples. Jamur ini dapat ditemukan dalam bentuk kering di toko-toko khusus Cina.

7. Jamur Tiram Biru

Ada satu lagi sebenarnya, yaitu jamur tiram biru, namun karena keterbatasan referensi maka saya belum bisa membahasnya. Gambar jamur tiram biru dapat dilihat disamping kiri.

Dari beberapa jenis jamur tiram yang telah disebutkan diatas, jamur tiram putih, abu-abu, dan cokelat paling banyak dibudidayakan karena mempunyai sifat adaptasi dengan lingkungan yang baik dan tingkat produktivitasnya cukup tinggi. Jenis-jenis jamur tersebut mempunyai sifat pertumbuhan yang hampir sama, namun masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan.

1. Jamur tiram putih tumbuh membentuk rumpun dalam satu media. Setiap rumpun mempunyai percabangan yang cukup banyak. Daya simpannya lebih lama dibandingkan dengan jamur tiram abu-abu, meskipun tudungnya lebih tipis dibandingkan dengan jamur tiram cokelat dan jamur tiram abu-abu.

2. Jamur tiram cokelat mempunyai rumpun yang sangat sedikit dibandingkan dengan jamur tiram putih dan jamur tiram abu-abu, tetapi tudungnya lebih tebal dan daya simpannya lebih lama.

3. Jamur tiram abu-abu mempunyai rumpun paling banyak dibandingkan dengan jamur tiram cokelat maupun jamur tiram putih, tetapi jumlah cabangnya sedikit dan lebih tipis dibandingkan dengan jamur tiram cokelat. Daya simpannya paling pendek.

Setelah Mengenal Berbagai Jenis Jamur Tiram, sekarang kita tinggal memilih mau budidaya jamur tiram jenis apa, karena semua ada kelebihan dan kekurangannya. Semoga sukses (Oemah Jamur)

Sumber gambar:
1. https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiF6UiVhcS0y9PYS9Ip27H94pNlAkFI-r-oWtsMJL-IQ_eYJ6hLZZCTCaUl8wNwv54dA2TngrexGaAzQffbH2Ll9b7lD78Y3FjFTHffF9gniGBR7wu-EDDhuNQ2314zdaDVOCRmwZNFGC_j/s1600/jamur_tiram.jpg
2. http://farm4.static.flickr.com/3162/2630787316_7b22b36c21.jpg
3. . http://septianabaroroh.files.wordpress.com/2010/11/tiram-abu-abu.jpg
4. http://kebunjamur.files.wordpress.com/2010/03/tiram-pink-sakura-shimeji.jpg
5. http://farm4.static.flickr.com/3007/2322518140_3757179226.jpg
6. http://thetaooffood.com/wp-content/uploads/image-import/_2fHihaWED94/SIKfZDpE88I/AAAAAAAAABo/jJdUIKtRYT4/s1600-h/KingOysterMushroom.jpg
7. http://addisonslab.com/media/catalog/product/cache/1/image/9df78eab33525d08d6e5fb8d27136e95/b/l/blue_dove_oyster_mushroom.jpg

Mengenal Jamur Tiram Putih

Diantara banyak jenis jamur yang sedang baik prospeknya adalah Jamur Tiram Putih (Pleuratus ostreatus sp). Jamur ini disebut juga jamur kayu, karena tumbuh pada media kayu lapuk atau serbuk kayu. Disebut jamur tiram karena bentuk tudungnya membulat lonjong dan menutup seperti cangkang tiram. Jenis jamur tiram pun bermacam-macam ada tiram putih, coklat dan merah.

Menurut wikipedia, tubuh buah dari jamur tiram memiliki tangkai yang tumbuh menyamping dan bentuknya seperti tiram (ostreatus), sehingga jamur tiram mempunyai nama binomial Pleurotus ostreatus. Bagian tudung berubah warna dari hitam, abu-abu, coklat, hingga putih, dengan permukaan yang hampir licin, diameter 5-20 cm. Tepi tudung mulus sedikit berlekuk. Spora berbentuk batang berukuran 8-11×3-4μm. Miselia berwarna putih dan bisa tumbuh dengan cepat.

Kandungan Gizi

Jamur ini mempunyai kandungan protein yang tinggi, asam lemak tak jenuh, serat dan vitamin sehingga rasanya sangat enak dibandingkan jenis jamur lainnya. Kandungan gizi jamur tiram menurut Direktorat Jenderal Hortikultura Departemen Pertanian, protein jamur tiram rata-rata 3.5 – 4 % dari berat basah. Berarti dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan asparagus dan kubis. Jika dihitung berat kering, kandungan proteinnya 19-35%, sedangkan beras hanya 7.3% gandum 13.2% kedelai 39.1%. susu sapi 25.2%. Jamur tiram juga mengandung 9 macam asam amino yaitu (1) lisin (2) metionin (3) triptofan (4) threonin (5) valin (6) leusin (7) isoleusin (8) histidin dan (9) fenil alanin. 72% lemak dalam jamur tiram adalah asam lemak tidak jenuh sehingga aman dikonsumsi baik yang menderita kelebihan kolesterol (hiperkolesterol), maupun gangguan metabolisme lipid lainnya. 28% asam lemak jenuh, serta adanya semacam polisakarida kitin di dalam jamur tiram diduga menimbulkan rasa enak. Jamur tiram juga mengandung vitamin penting, terutama vitamin B, C, dan D, serta vitamin B1 (tiamin), B2 (riboflavin), niasin, dan provitamin D2 (ergosterol) dalam jamur tiram cukup tinggi. Mineral utama tertinggi adalah Kalium, Fosfor, Natrium, Kalsium dan Magnesium. Mineral utama tertinggi adalah : Zn, Fe, Mn, Mo, Co, dan Pb. Konsentrasi K, P, Na, Ca, dan Me mencapai 56-70% dari total abu dengan kadar K mencapai 45%. Mineral mikroelemen yang bersifat logam dalam jarum tiram kandungannya rendah, sehingga jamur ini aman dikonsumsi setiap hari.

Dilihat dari kandungan gizi yang terdapat dalam jamur tiram, maka bahan ini termasuk aman untuk dikonsumsi. Adanya serat, yaitu lignoselulosa baik untuk pencernaan. USDA (United States Drugs and Administration) yang melakukan penelitian pada tikus menunjukkan bahwa dengan pemberian menu jamur tiram selama 3 minggu akan menurunkan kadar kolesterol dalam serum hingga 40 % dibandingkan dengan tikus yang tidak diberi pakan yang mengandung jamur tiram. Oleh karena itu, mereka berpendapat bahwa jamur tiram dapat menurunkan kadar kolesterol pada penderita hiperkolesterol. Di Jepang saat ini sedang diteliti potensi jamur tiram sebagai bahan makanan yang dapat mencegah timbulnya tumor.

Penanaman dan Pemanenan

Jamur tiram dapat ditumbuhkan pada media kompos serbuk gergaji kayu. Miselium dan tubuh buahnya tumbuh dan berkembang baik pada suhu 25-30°C. Agar bakal tubuh buah terbentuk biasanya dibutuhkan kejutan fisik seperti perubahan suhu, cahaya, tingkat CO2, kelembaban relatif udara dan aerasi. Suhu substrat yang tinggi dapat memicu pertumbuhan mikroflora termofilik. Mikroorganisme termofilik tumbuh pada kisaran suhu 30-55°C, ketika tumbuh mikroorganisme tersebut menghasilkan panas yang lebih pada substrat sehingga dapat mematikan miselium jamur yang dibudidayakan. Substrat sebaiknya memiliki konduktivitas panas yang rendah, oleh karena itu susunan tinggi kompos kurang dari 25 cm dan log jamur tidak lebih dari 25 kg. Selama pembentukan tubuh buah, beberapa jamur sensitif terhadap tingkat CO2 yang tinggi, sehingga tubuh buah yang terbentuk akan memiliki tangkai yang panjang dan tudung yang kecil. Kisaran konsentrasi CO2 yang baik untuk pertumbuhan galur tertentu dari P. ostreatus antara 550-700 ppm. Faktor cahaya sangat menentukan pembentukan tubuh buah. Beberapa jamur akan membentuk tubuh buah jika kekurangan cahaya. Untuk pembentukan tubuh buahnya Pleurotus spp. diperlukan 8 jam penyinaran cahaya, namun Pleurotus yang tumbuh tanpa cahaya akan membentuk struktur seperti koral dengan banyak tangkai yang bercabang.

Pada umumnya teknologi budidaya yang diterapkan para petani jamur tiram yaitu penggunaan serbuk gergaji sebagai substrat menjadi “baglog” yaitu substrat yang dikemas didalam kantong plastik tahan panas. Adapun karakteristik pertumbuhan jamur tiram pada baglog serbuk gergaji yaitu dalam jangka waktu antara 40-60 hari seluruh permukaan baglog sudah rata ditumbuhi oleh misellium berwarna putih. Satu sampai dua minggu setelah baglog dibuka biasanya akan tumbuh tunas dalam 2-3 hari akan menjadi badan buah yang sempurna untuk dipanen. Pertumbuhan badan buah pada waktu panen telah menunjukkan lebar tudung antara 5-10 cm. Produksi jamur dilakukan dengan memanen badan buah sebanyak 4-5 kali panen dengan rerata 100 g jamur setiap panen. Adapun jarak selang waktu antara masing-masing panen adalah 1-2 minggu.

Bakal tubuh buah atau primordia dari basidiomiset adalah gumpalan kecil yang terdiri dari kumpulan miselia yang akan berkembang menjadi tubuh buah. Diameter tubuh buah sekitar 1 mm. Primordia berkembang dan pada tubuh buah muda terlihat bagian-bagian tubuh buah seperti tudung dan tangkai yang terletak tidak di tengah tudung. Pada permukaan bawah tudung dari tubuh buah muda terdapat bilah-bilah (lamela). Lamela tubuh menurun dan melekat pada tangkai. Pada lamela terdapat sel-sel pembentuk spora (basidium), yang berisi basidiospora. Basidiospora biasanya dibentuk pada saat tubuh buah dewasa mengalami kematangan. Selama tepi tudung masih berlipat-lipat, tubuh buah dikatakan belum dewasa. Pada saat tepi tudung meregang penuh tubuh buah mencapai fase dewasa dan dapat dipanen. Tubuh buah yang matang biasanya rapuh dan spora-spora dapat dilepaskan.

Spora pada jamur berfungsi untuk alat reproduksi dan bertahan. Karakteristik spora sering digunakan untuk mempelajari sistematika dan klasifikasi jamur. Para ahli mikologi dapat menggunakan spora atau lebih tepatnya jejak spora yang dapat membantunya untuk mengidentifikasi ribuan spesies jamur yang memiliki tudung. Jejak spora adalah kumpulan spora dalam jumlah besar. Hal ini bisa diperoleh dengan meletakkan tudung dengan himenium menghadap ke bawah pada selembar kertas putih atau sepotong kaca. Setelah beberapa jam, terkadang tidak sampai esok harinya, lapisan spora akan terkumpul. Warna spora terbagi ke dalam 4 atau 5 tipe umum, yaitu: putih, merah muda, kuning tanah dan ungu kehitaman, namun kelompok terakhir dapat dibedakan lagi menjadi ungu dan hitam. Warna spora kadang-kadang dapat dilihat secara visual dengan melihat lamela pada jamur dewasa, tetapi kadang-kadang warna dari lamela menyembunyikan warna sporanya.

Prospek

Alasan mengapa Jamur tiram mempunyai prospek baik untuk dibudidayakan, yaitu selain bahan bakunya sangat melimpah dan mudah didapat , juga budidaya jamur tiram tidak butuh lahan luas. Itu karena dapat dilakukan dengan system rak bertingkat. Jamur tiram selani mempunyai rasa yang lezat untuk dikonsumsi juga ternyata berhasiat untuk kesehatan, tak heran jamur tiram banyak disukai dan dicari orang.

Banyak produk yang dihasilkan dari bahan baku jamur tiram, seperti tepung jamur tiram, permen jeli jamur tiram, keripik jamur tiram, abon jamur tiram, nuget jamur tiram, jamur tiram crispy, dan lain-lain.

Hingga saat ini jamur tiram lebih banyak diproduksi di jawa barat. Berdasarkan data yang ada, jawa barat memproduksi 10 ton jamur tiram setiap harinya dan mayoritas dipasarkan dalam bentuk segar dengan tujuan pemasarannya kota-kota besar. Daerah Karawang, Bandung, Bogor, dan Sukabumi misalnya, menyuplai jamur tiramnya ke pasar-pasar di Jakarta.

Bila dibandingkan dengan jenis jamur lainnya, jamur tiram sudah jauh lebih dikenal dan memasyarakat. Oleh karena itu masyarakat sudah terbiasa mengkonsumsinya. Hal ini membuat kebutuhan pasar akan jamur tiram menjadi luas dan permintaan akan produk jamur tiram, baik dalam bentuk segar maupun olahannya,terus meningkat. Di beberapa negara seperti Singapura, Taiwan, Jepang, dan Hongkong, permintaan jamur tiram dalam bentuk kering maupun yang telah dikalengkan sangat tinggi.

Tepung Jamur Tiram

Pada dasarnya cara pembuatan tepung jamur tiram sama dengan cara pembuatan tepung singkong dan kentang. Pertama dengan mengeringkan bahan, yaitu jamur tiram, hingga kering, lalu dilakukan penggilingan dan pengayakan untuk mendapatkan tepung yang halus.

Dalam pengeringan, rendemen yang dihasilkan yaitu sekitar 8.1% – 8.5%, sangat kecil, karena diakibatkan kandungan air yang terkandung dalam jamur tiram sangat jenuh, yaitu sekitar 90%. Jadi, apabila dari 100 kg jamur tiram, apabila diolah menjadi tepung jamur tiram, maka akan dihasilkan 8 kg – 8,5 kg tepung jamur tiram.  (bemfateta.ipb.ac.id)

Ciri-Ciri Jamur Beracun

Menjalankan usaha budidaya jamur tentu menjanjikan untung besar bagi pelakunya. Namun jika Anda tertarik berbisnis jamur, ada baiknya Anda kenali terlebih dahulu macam-macam jamur yang bisa dikonsumsi dan jenis jamur yang berbahaya untuk dikonsumsi.

Dari sekitar 70.000 jenis jamur yang tumbuh dan berkembang di berbagai belahan dunia, ternyata masih banyak juga diantaranya yang beracun dan berbahaya bila dikonsumsi manusia. Jamur beracun bisa menyebabkan sakit pada seseorang yang mengkonsumsinya, bahkan bisa sampai menyebabkan sebuah kematian. Maka dari itu sebelum Anda mengkonsumsi maupun menjalankan bisnis budidaya jamur, penting bagi Anda untuk mengenali jenis jamur seperti apa yang diperkirakan mengandung racun dan berbahaya bagi konsumennya.

Saat ini terdapat kurang lebih sepuluh macam jamur konsumsi yang sering dibudidayakan masyarakat, sebut saja jamur tiram, jamur merang, jamur kuping, jamur shiitake, jamur champignon (kancing), jamur lingzhi, jamur hiratake, jamur enoki, dan lain-lain. Sedangkan untuk jamur beracun, kita mengenal beberapa jenis jamur diantaranya Amatoxin/ Amanatin (Cyclopeptida), Gyromitrin, Orellanine, Ibotenic Acid, Muscimol, Psilocybin, serta Coprine. Jenis jamur beracun ini biasanya kita temui di alam bebas.

Secara visual, bentuk dan warna jamur memang belum bisa dijadikan sebagai bahan acuan untuk membedakan mana jamur beracun dan mana jamur yang aman untuk dikonsumsi. Beberapa panduan sederhana yang biasa digunakan para prajurit Angkatan Darat maupun para penjelajah hutan untuk mengenali ciri fisik jamur yang beracun bisa menjadi acuan bagi Anda untuk mengenali jenis jamur beracun ini.

Pertama, jamur beracun umumnya memiliki warna yang sangat mencolok, seperti merah, hijau, biru, hitam, dan sebagainya (namun ada pula jamur shiitake yang disebut sebagai jamur hitam China aman untuk dikonsumsi).

Kedua, jamur beracun biasanya mengandung senyawa sulfida sehingga menimbulkan bau busuk atau senyawa cianida. Umumnya jamur yang mengandung senyawa tersebut jarang dihinggapi serangga atau binatang kecil lainnya.

Ketiga, bisa Anda kenali dengan mengerat jamur beracun, kemudian meletakannya pada benda-benda yang terbuat dari perak (misalnya pisau, sendok, garpu, atau cincin), maka pada permukaan benda tersebut akan muncul warna hitam yang disebabkan senyawa sulfida atau warna kebiruan yang disebabkan senyawa cianida. Cara yang terakhir bisa Anda ketahui setelah jamur tersebut dimasak bersama nasi, maka nasi tersebut akan berubah warna menjadi cokelat, kuning, merah atau hitam.

Semoga infomasi ini bisa menjadi tambahan wawasan bagi para pembaca yang tertarik dengan dunia jamur. Selamat berkarya dan salam sukses. Ayo berbisnis jamur !!!(bisnisukm.com)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha , Car Price in India