Cara Membuat Biakan Murni Jamur Tiram

Biakan murni adalah bibit awal dari jamur tiram. Bibit inilah yang kemudian diperbanyak untuk bibit induk dan bibit tanam. Biasanya biakan murni dibuat dari media PDA yang ditanam eksplan (bagian) dari indukan jamur kemudian eksplan tersebut berkembang menjadi miselium yang merambat di permukaan PDA, inilah yang disebut dengan sistem kultur jaringan, namun sebenarnya tidak hanya sistem kultur jaringan yang bisa kita lakukan, karena ada cara lain untuk menghasilkan biakan murni. 


Secara umum biakan murni dapat dibuat dengan tiga cara, biakan murni dari subbiakan, dari spora, dan dari jaringan tubuh jamur. Secara rinci, beberapa cara membuat biakan murni dipaparkan sebagai berikut.

Biakan murni dari subbiakan

Biasanya lebih dikenal dengan biakan murni dari bibit induk (F1). Caranya cukup mudah, yaitu pindahkan miselium jamur dari bibit induk (F1) ke dalam media PDA secara aseptic. Bisa juga dengan memindahkan biakan murni (F0) ke media PDA. Istilahnya dari media PDA ke PDA. Namun, hasil dari biakan ini diharapkan tidak diturunkan lagi menjadi biakan murni, karena dikawatirkan akan terjadi penurunan kualitas dari bibit induk yang akan dihasilkan. Biakan murni ini bisa kita buat sendiri atau kita beli dari pengusaha bibit jamur, harganya berkisar 150 ribu per botol.

Biakan murni dari spora

Metode ini biasanya hanya digunakan untuk penelitian karena diperlukan tingkat ketelitian sangat tinggi. Caranya ambil spora dari indukan jamur yang baik, biasanya spora jamur terletak pada bilah bagian bawah tudung jamur. Spora tersebut selanjutnya ditampung  di dalam cawan yang berisi agar-agar steril, lalu inkubasikan. Isolasikan spora tersebut setelah berbentuk kecambah. Caranya, gunakan scalpel untuk memotong media agar-agar yang telah ditumbuhi kecambah. Selanjutnya pindahkan biakan ke media lain.

Biakan murni dari Jaringan

Bibit ini diperoleh dengan system kultur jaringan, yakni, mengambil eksplan (bagian) dari indukan jamur kemudian diinokulasikan ke media agar (PDA) secara aseptic. Cara ini dinilai cukup baik karena dapat diketahui langsung sifat fisik tubuh buah jamur. Caranya, ambil sayatan di bagian tengah, antara tudung dan batang dengan menggunakan scalpel atau cutter kurang lebih 4x5 mm, kemudian inokulasikan pada media PDA secara aseptic. Dalam waktu beberapa hari eksplan akan tumbuh berupa miselium yang bewarna putih.

Artikel diatas saya ambil dari buku “Budidaya Jamur Konsumsi” yang diterbitkan oleh Redaksi Agro Media, dengan beberapa tambahan dari penulis.  Sekian dan semoga bermanfaat..!!!

Sumber gambar: http://images.plurk.com/4252971_27987351e5b5a34ff058dce988700c85.jpg

Purwokerto,13 Juli 2012

Membuat PDA Sendiri

PDA adalah kepanjangan dari Potatoes Dextrose Agar. Sesuai namanya, PDA tersusun atas 3 bahan utama yaitu potatoes (kentang), dextrose (sejenis gula) dan agar yang kemudian ketiga bahan tersebut dilarutkan ke dalam aquades. Sebenarnya PDA bisa kita beli dalam bentuk jadi (serbuk). Tinggal dilarutkan dalam aquades, jadi deh..!!!. Namun, dikarenakan harga PDA jadi yang cukup mahal, alangkah baiknya bagi kita yang ingin mengurangi biaya produksi maka kita bisa membuat PDA sendiri. 

Caranya cukup mudah kok..!!!. berikut langkah-langkahnya:

Bahan-bahan:
  1. Kentang berkualitas : 200 gram
  2. Dextrose/gula pasir : 20 gram
  3. Agar powder putih/bening/netral : 20 gram
  4. Aquades/air aki/air mineral : 2 Liter
Cara membuat:
  1. Kentang dikupas, dicuci dan diiris kotak ukuran 1cm x 1cm x 1cm.
  2. Rebus kentang dengan air aquades sebanyak 1 liter selama 20-30 menit.
  3. Ambil sarinya dengan cara disaring, kemudian masukkan ke dalam gelas ukur. Tambahkan aquades hingga menjadi 1 liter kembali.
  4. Rebus kembali larutan kentang tersebut, kemudian masukkan gula pasir dan agar powder, aduk hingga merata.
  5. Siapkah botol kecil yang sudah steril. Sterilisasi botol bisa dengan direbus atau dikukus menggunakan autoclave atau panci presto sekitar 15-20 menit.
  6. Larutan PDA kemudian dimasukkan dalam botol kira-kira sampai larutan PDA setinggi 1-1,5 cm dari dasar botol.
  7. Sumbat botol dengan kapas, kemudian tutup dengan plastik dan ikat dengan karet gelang.
  8. Masukkan botol dalam autoclave atau panci presto. Sterilkan selama 20-30 menit.
  9. Setelah disterilkan, letakkan botol dalam posisi miring agar memperluas media rambat miselium.
  10. Setelah dingin, media siap digunakan.
Untuk mengetahui PDA tidak terkontaminasi, biarkan PDA selama 2-3 hari. Apabila media PDA masih dalam keadaan bersih/bening/jernih, maka PDA siap digunakan, namun apabila media PDA menjadi keruh atau terdapat bintik-bintik hitam, maka PDA sudah terkontaminasi. PDA bisa kita sterilkan kembali.

Membuat PDA mudah kan..!!! Selamat mencoba...

Penjelasan tambahan:
  1. Potatoes (kentang) digunakan sebagai sumber nutrisi/unsur hara.
  2. Dextrose/gula pasir digunakan sebagai sumber energi.
  3. Agar powder berfungsi sebagai zat untuk memadatkan/mengeraskan PDA setelah dingin.

Purwokerto, 26 Juni 2012

Panduan Bisnis Sahabat Nabi

Generasi sahabat adalah mata air inspirasi yang tak pernah kering. Dalam setiap bidang kehidupan, akan kita temukan dengan mudah profil teladannya dari golongan shahabat. Abu Bakar dikenal sebagai politisi yang santun dan ulung yang meletakkan banyak inspirasi pengelolaan pemerintahan. Khalid bin Walid adalah pakar strategi kemiliteran yang mumpuni dalam setiap medan pertempuran. Panglima musuh pun dengan penuh ketakutan melakukan klarifikasi terhadapnya, apakah benar pedang yang dibawanya adalah pedang Allah? Khalid hanya tersenyum ringan dan mengatakan itu hanyalah julukan yang diberikan Rasulullah kepadanya.

Begitu pula dengan kehadiran Ali bin Abi Thalib, sosok ilmuwan yang otaknya dipenuhi ide-ide brilian. Kecerdasannya diibaratkan begitu indah oleh Rasulullah, “Aku adalah kota ilmu, dan Ali adalah pintunya. Barangsiapa yang menginginkan ilmu maka datangilah lewat pintunya.” Inilah yang menjadikan Ali bin Abi Thalib sebagai satu-satunya shahabat yang senantiasa meminta orang untuk bertanya kepadanya. “Tanyalah kepadaku, tanyailah aku...!” Subhanallah...!

Salah satu bidang kehidupan yang dijalani para shahabat dengan prestasi gemilang adalah dunia bisnis dan perdagangan. Nama-nama seperti Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf menjadi jaminan bahkan branding betapa majunya usaha perdagangan shahabat pada waktu itu. Sosok Abdurrahman bin Auf misalnya, mengawali usahanya di Madinah hanya dengan bekal semangat dan kesungguhan saja, hingga akhirnya benar-benar menjadi milyuner Madinah. Bahkan tidak berlebihan jika disebutkan bahwa kehadiran Abdurrahman bin Auf mengakhiri dominasi dan monopoli kaum Yahudi di pasar Madinah. Bisa dibayangkan, dalam sebuah kesempatan saat rombongan dagang beliau sampai di Madinah, seluruh penduduk Madinah terguncang karena gemuruh suaranya. Mereka mengira angin topan bertiup dengan kencangnya, padahal yang sesungguhnya terjadi adalah kedatangan 700 ekor unta yang penuh dengan barang dagangan Abdurrahman bin Auf!!

Sungguh decak kagum saja tidak akan pernah usai saat melihat gambaran kehebatan dan kiprah shahabat dalam dunia bisnis. Mari sejenak kita sisihkan waktu, untuk mengambil inspirasi apa yang sesungguhnya mereka lakukan, hingga mampu mengelola bisnis dengan hebat, sekaligus sebagai pendukung dakwah Rasulullah yang tangguh. Simak panduan singkatnya berikut ini:

Pertama: Jiwa Kemandirian

Kunci sukses perdagangan shahabat dimulai dari jiwa kemandirian yang luar biasa. Mereka tidak bertopang dan menggantungkan diri kepada orang lain. Gambaran ini bisa kita dapatkan dengan jelas dari kisah hijrahnya Abdurrahman bin Auf. Adalah seorang jutawan Madinah bernama Sa’ad bin Rabi Al-Anshory yang dipersaudarakan oleh Rasulullah dengan Abdurrahman bin Auf, ia menawarkan pinjaman lunak kepada saudaranya begitu tulus, “Saudaraku! Saya adalah salah seorang penduduk Kota Madinah yang punya banyak harta, pilihlah dan ambillah sebagian hartaku!!”

Lihatlah tawaran yang indah dan menjadi impian setiap pedagang benar-benar sudah ada dihadapan. Tak perlu lagi birokrasi, proposal usaha, jaminan, surat rekomendasi dan semacamnya. Pengembaliannya pun begitu lunak nyaris tanpa jangka waktu tertentu. Namun apa jawab Abdurrahman bin Auf. Semangat dan jiwa kemandiriannya segera menolak seraya mengatakan, “Semoga Allah memberkahi keluarga dan hartamu, tetapi cukup tunjukkan saja kepadaku dimana letak pasar?”

Sungguh penolakan ini bukanlah kesombongan, tapi tekad dan semangat kuat untuk mandiri. Hal ini kemudian dibuktikan, bagaimana ia segera memulai kiprahnya di pasar Madinah sedikit demi sedikit, hingga akhirnya menjadi pemasok utama barang dagangan di Madinah. Tidak berlebihan ketika kemudian ia pun memberikan testimoni tentang keberhasilannya.

Kedua: Senantiasa Mengingat Allah dan Taat Beribadah

Meskipun kesibukan dan aktivitas dagang yang luar biasa, para shahabat tidak lalai dengan kewajiban ibadah dan dzikrullah. Mereka semua dalam kondisi ruhiyah yang tangguh, tidak mudah tergoda dengan peluang-peluang dan tawaran duniawi yang berkelebat di depan mata. Begitu indah al Qur’an memuji pedagang yang mulia ini:

“Orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual-beli dari mengingat Allah, dan mendirikan shalat, dan dari membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang hati dan penglihatan menjadi guncang (hari kiamat).” (QS. An-Nuur: 37)

Bukti nyata, suatu ketika bahkan Abdurrahman bin Auf pernah mengimami shalat shahabat lainnya, dan Rasulullah ikut turut serta menjadi makmumnya! Ketika Abdurrahman bin Auf jengah dan ingin mundur, Rasulullah memberi isyarat agar tetap pada tempatnya. Demikian yang dikisahkan dalam kitab Usudul Ghoba, yang ini semua memberi gambaran bagaimana sesungguhnya kapasitas ruhiyah seorang Abdurrahman bin Auf.

Mereka para pedangan di Madinah, meyakini sepenuhnya bahwa kunci kesuksesan berdagang, sebagian besar karena memperbanyak dzikrullah dalam setiap aktivitas dagangnya. Mereka mengingat dan memahami betul panduan bisnis Qurani, Allah berfirman: “Dan ingatlah Allah banyak-banyak supanya kamu beruntung.” (QS. Al-Jum’at: 10)

Ketiga: Pekerja Keras, Mengawali Aktivitas Dagang Sepagi Mungkin

Para bisnisman Madinah meyakini bahwa keberkahan ada di waktu pagi hari. Karenanya mereka senantiasa memulai aktivitasnya di awal pagi, saat tubuh giat dan bersemangat. Rasulullah berdo’a dalam sabdanya: “Ya Allah, berkahilah umatku di waktu pagi harinya.” Beliau juga senatiasa mengirim pasukan di awal pagi sebagai awal kesuksesan. Seorang pedagang Madianah lainnya yang bernama Sohkr al-Ghomidi, bahkan tidak pernah mengirim agen distributor dan marketingnya untuk mulai berkeliling kecuali dimaulai pada sepagi mungkin. Hal inilah yang menjadikan Sokhr sukses dalam berdagangan, dan hartanya jadi sangat banyak. Bahkan disebutkan dalam riwayat Ahmad: karena terlampau banyak harta hasil perdagangannya, sampai-sampai Sokhr pun kebingungan dimana lagi ia harus menyimpan hartanya. Subhanallah...

Keempat : Jujur dalam Berdagang

Kejujuran adalah kunci utama kesuksesan para sahabat dalam berdagang. Rasulullah SAW dalam hal ini senantiasa memandu dan mengawasi mereka dalam menjalankan aktifitas perdagangan. Tak jarang beliau langsung turun melakukan inspeksi pasar untuk mengecek ketersediaan dan kualitas barang. Beliau pun segera menegur saat ada sahabat yang mencoba berlaku curang menyembunyikan cacat barang dagangan yang dimilikinya.  Bukan hanya Rasulullah SAW, bahkan Al-Quran pun turun memberikan panduan dalam perdagangan secara umum. Lihat saja bagaimana surat Al-Muthoffifin turun menghenyakkan hati pedagang Madinah, mengkritik sebagian mereka yang masih berlaku curang tidak memenuhi timbangan dengan baik.  Dengan panduan dan pengawasan seperti inilah, para bisnisman dari golongan sahabat tumbuh mengembangkan bisnisnya tanpa melanggar prinsip kepatuhan syar’i.

Kelima : Tidak mengambil banyak Untung

Salah satu yang membuat tertarik pembeli adalah barang yang murah. Para sahabat mengetahui persis hal ini dan menjadikan sebagai strategi inti dalam perdagangannya. Adalah Abdurrahman bin Auf yang secara gamblang membocorkan rahasia kesuksesannya dalam masalah ini. Disebutkan dalam Kitab Ihya Ulumuddin imam Al-Ghozali, suatu ketika Abdurrahman bin Auf ditanya : “ Apa sebab kemudahanmu dalam berdagang ? “. Maka ia menjawab : “ ada tiga hal saja. Pertama: Aku tidak pernah menolak tawaran untung meskipun sedikit, Kedua : Aku tidak pernah menunda-nunda pesanan satu hewan pun. Ketiga : Aku tidak menjual dengan cara riba “. Dikisahkan pula bahwa suatu hari Abdurrahman bin Auf pernah menjual seribu ekor unta dan hanya mengambil untung harga seutas tali onta dari setiap unta yang terjual. Meskipun harga tali onta itu hanya satu dirham, tapi karena ia menjual 1000 ekor unta, maka seharian itu ia mendapatkan untung seribu dirham ! Subhanallah …

Keenam : Memperluas Wilayah  Pemasaran

Sejak dulu para sahabat tidak berkutat di Madinah dalam menjalankan aktifitas dagangnya. Bahkan kebiasaan Qurays di Mekkah pun sejak jaman jahiliyah adalah melakukan perjalanan dagang ekspor impor dua kali dalam setiap tahunnya, yaitu ke Yaman dan Syam. Begitu pula para sahabat usahawan di Madinah, mereka meyakini sepenuhnya bahwa rejeki Allah tersebar di bumi yang luas ini. Karenanya, bidang ekspor dan impor sejak awal telah mereka garap dengan serius dan mengantarkan kesuksesan mereka dalam berdagang.  Inspirasi qurani yang senantiasa mereka ambil adalah : “Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya” (QS Al Mulk 15)

Ketujuh : Saling bersinergi dan bekerja sama antar usahawan

Kunci sukses sahabat dalam bisnis berikutnya adalah memelihara lingkungan yang kondusif dalam berbisnis. Mereka tidak mengenal istilah kongkalingkong, sikut kanan dan sikut kiri dalam berbisnis, tapi justru sebaliknya tercipta kerja sama dalam saling sinergi yang sangat positif untuk mengembangkan bisnis. Rasulullah SAW sejak awal telah berperan besar dalam menciptakan kelangsungan pasar yang sehat di Madinah. Beliau memberlakukan sekian aturan kompetisi yang sehat dan dinamis, antara lain larangan bagi penjual untuk menawarkan dagangan kepada buyer yang telah menawar dagangan penjual lain. Begitu pula larangan monopoli perdagangan dengan melakukan upaya penimbunan barang langka agar bisa segera naik harganya saat hilang di pasaran. Semua aturan ini tanpa disadari menjadikan iklim usaha di Madinah begitu kondusif dan dinamis.

Kedelapan: Menjalankan Corporate Sosial Responsibility dengan tangguh

Inilah kunci kesuksesan akhir yang begitu tergambar di hadapan kita. Para usahawan dari golongan sahabat tidak hanya berdagang untuk diri sendiri, tapi juga menjalankan kewajiban berbagi dan mensukseskan program-program positif pemerintah. Utsman bin Affan memberikan contoh nyata, dalam mensponsori mobilisasi kaum muslimin dalam perang Tabuk yang membutuhkan pendanaan luar biasa. Disebutkan pada hari itu, Utsman bin Affan menginfakkan setidaknya 900 ekor unta lengkap dengan peralatan perangnya, 100 kuda perang, 200 kantong emas plus uang cash sebesar 1000 dinar. Sungguh jumlah yang amat besar dan mengagumkan Rasulullah SAW hingga beliau pun berujar : “ Sungguh tidak ada lagi yang akan membahayakan Utsman setelah hari ini “.

Kiprah Abdurrahman bin Auf  juga tidak kalah hebatnya. Beliau senantiasa membantu keperluan sahabat sampai akhir hidupnya. Tercatat dalam kitab Usudul Ghoba, bagaimana total sedekah beliau saat beliau masih hidup sebanyak 80.000 dinar, sedekah berupa onta perang sebanyak 1000 ekor, menyediakan tanah bagi istri-istri Rasulullah senilai 40.000 dinar . Bukan itu saja, ketika beliau wafat pun mewasiatkan banyak harta untuk sedekah antara lain : untuk keperluan fi sabilillah sebesar 50.000 dinar, untuk tunjangan veteran perang badar sebesar 40.000 dinar, berwasiat kendaraan dan perlengkapan logistik perang  berupa unta 1000 ekor, kuda 100 ekor dan kambing 1300 ekor. Sungguh luar biasa. Dana ratusan milyar dianggarkan secara khusus untuk berbagi dengan yang lainnya.

Akhirnya, sekali lagi decak kagum tidak akan pernah cukup untuk mengapresiasi kehebatan strategi bisnis para sahabat yang mulia. Mari bersama berusaha menjalankannya sekuat tenaga, agar lebih berkah kehidupan dunia dan akhirat kita. Semoga Allah SWT memudahkan. (Ustadz Hatta Syamsuddin, Lc.)

Sumber gambar: 
- http://halaqohdakwah.files.wordpress.com/2008/07/kilafah.jpg
Sumber artikel : 
- http://www.indonesiaoptimis.com/2010/10/panduang-bisnis-hebat-ala-sahabat.html
- http://www.indonesiaoptimis.com/2010/10/panduan-bisnis-hebat-ala-sahabat-bagian.html

Meningkatkan BER Jamur Tiram

Berapa nilai BER (biological efficiency ratio) rata-rata pekebun jamur tiram? Tak lebih dari 30%. Dengan persentase itu produksi tiram hanya 300 - 400 g per 1 kg baglog. Padahal nilai BER dapat didongkrak hingga 40 - 45%.

BER menunjukkan kemampuan satu satuan substrat (baglog basah) menghasilkan satu satuan tubuh buah jamur dalam 1 periode tanam. Makin tinggi nilainya makin baik karena berarti produktivitas per baglog makin tinggi. Selama ini pekebun jarang memperhatikan nilai BER. ‘Padahal nilai BER berpengaruh besar pada produksi jamur,’ kata Dr Iwan Saskiawan, peneliti jamur dari Pusat Penelitian Biologi LIPI di Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Bila nilai BER naik hingga 45%, artinya, produksi Pleurotus ostreatus mencapai 450 g per baglog.

Ada beberapa cara untuk menaikkan nilai BER. Rachmatullah SP, pekebun di Bogor, Jawa Barat, menyebutkan bibit berkualitas mutlak dipakai. Cirinya pertumbuhan misellium rapat dan merata. ‘Bibit juga terlihat segar dan tidak terlalu padat,’ kata alumnus Institut Pertanian Bogor (IPB) itu. Bibit padat atau penuh pertanda sudah terlalu tua.

Media tanam

Hal penting lain adalah media tanam. Tiram jamur kayu yang tumbuh di media kayu lapuk. Oleh karena itu pekebun menggunakan substrat berbahan serbuk kayu gergaji sebagai media. Serbuk kayu terbaik berasal dari jenis kayu albasia atau sengon dan suren. Karena cepat lapuk. ‘Waktu pengomposan cukup 5 - 7 hari. Sementara kayu keras perlu 10 - 14 hari sebelum digunakan,’ kata Iwan, doktor biologi dari Kyoto University di jepang itu.

Pengomposan membantu memecah atau memotong beberapa senyawa gula rantai panjang di tubuh kayu seperti lignin, hemiselulose, dan selulose menjadi senyawa gula  rantai pendek atau monosakarida seperti xilosa dan glukosa. Setelah terpecah tiram lebih mudah memanfaatkannya. Jamur keluarga Tricholomatacea itu tak memiliki klorofil sehingga memenuhi kebutuhan nutrisi dari hasil pelapukan kayu. ‘Semakin tinggi gula reduksi yang dihasilkan semakin mudah jamur menyerapnya,’ ujar Iwan.

Iwan menyarankan bahan substrat terdiri dari 85 - 90% serbuk gergaji, 10 - 15% dedak, 1 - 2% kapur, dan 1 - 2% gipsum. Penggunaan dedak terlalu banyak, di atas 15%, memacu pertumbuhan jamur selain tiram sehingga terjadi kompetisi perebutan nutrisi. Dedak berfungsi sebagai sumber karbon, vitamin B1, dan B2 yang berguna bagi pertumbuhan jamur. Kapur menetralkan pH media.

Menurut Ir NS Adi Yuwono, praktikus jamur di Bandung, Jawa Barat, media terlalu asam membuat tiram mudah layu dan pertumbuhan tudung mengecil. Makanya pH harus dikontrol. ‘Yang bagus berkisar 5,5 - 7,’ kata alumnus Universitas Islam Nusantara, Bandung itu.

Dr Etty Sumiati MS, peneliti jamur di Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa), Lembang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, menyarankan penggunaan campuran 88,5% serbuk kayu albasia, 5% bekatul, 1 - 2% biji milet, 1 - 2% jagung giling kasar, 1 - 2% kapur pertanian (CaCO3), dan 1 - 2% gypsum (CaSO4) untuk menaikkan BER. Kadar air substrat dipertahankan 65% dengan pH 7. ‘Dengan campuran itu nilai BER mencapai 50%,’ ungkap doktor dari Universitas Padjadjaran, Bandung itu.

Lingkungan tepat

Menurut Etty bobot media 1 - 2 kg per baglog paling pas dipakai pekebun tanahair. ‘Jika terjadi kontaminasi lebih mudah penanganannya,’ katanya. Maklum, iklim di wilayah tropis dengan tingkat kelembapan tinggi lebih rentan serangan hama dan penyakit. Di negara subtropis yang kelembapannya rendah hama dan penyakit sulit berkembang. Pekebun tiram di Belanda, misalnya, berani memakai baglog berbobot 7 - 17 kg.

Menurut Iwan angka BER juga terdongkrak jika tiram ditumbuhkan di lingkungan yang tepat. Tiram tumbuh optimal pada suhu 25 - 26oC, kelembapan 80 - 90%, dan intensitas cahaya di kisaran 40 lux menyebar rata di dalam kumbung.

Sirkulasi udara juga harus baik. Jamur berespirasi melepaskan CO2. Jika kadar CO2 tinggi, tangkai jamur panjang, tetapi tudungnya kecil. Sebaliknya bila kadar CO2 rendah, tangkai pendek dan tudung lebih besar. Yang disebut terakhir itulah tipe yang paling diminati konsumen. Bila faktor yang mempengaruhi nilai BER terpenuhi, niscaya produksi tiram 450 g per baglog mudah dicapai. (Rosy Nur Apriyanti)

Sumber artikel dan gambar: trubus-online.co.id dengan judul "Tiram 450 g per Baglog"

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha , Car Price in India