Panduan Bisnis Sahabat Nabi

Generasi sahabat adalah mata air inspirasi yang tak pernah kering. Dalam setiap bidang kehidupan, akan kita temukan dengan mudah profil teladannya dari golongan shahabat. Abu Bakar dikenal sebagai politisi yang santun dan ulung yang meletakkan banyak inspirasi pengelolaan pemerintahan. Khalid bin Walid adalah pakar strategi kemiliteran yang mumpuni dalam setiap medan pertempuran. Panglima musuh pun dengan penuh ketakutan melakukan klarifikasi terhadapnya, apakah benar pedang yang dibawanya adalah pedang Allah? Khalid hanya tersenyum ringan dan mengatakan itu hanyalah julukan yang diberikan Rasulullah kepadanya.

Begitu pula dengan kehadiran Ali bin Abi Thalib, sosok ilmuwan yang otaknya dipenuhi ide-ide brilian. Kecerdasannya diibaratkan begitu indah oleh Rasulullah, “Aku adalah kota ilmu, dan Ali adalah pintunya. Barangsiapa yang menginginkan ilmu maka datangilah lewat pintunya.” Inilah yang menjadikan Ali bin Abi Thalib sebagai satu-satunya shahabat yang senantiasa meminta orang untuk bertanya kepadanya. “Tanyalah kepadaku, tanyailah aku...!” Subhanallah...!

Salah satu bidang kehidupan yang dijalani para shahabat dengan prestasi gemilang adalah dunia bisnis dan perdagangan. Nama-nama seperti Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf menjadi jaminan bahkan branding betapa majunya usaha perdagangan shahabat pada waktu itu. Sosok Abdurrahman bin Auf misalnya, mengawali usahanya di Madinah hanya dengan bekal semangat dan kesungguhan saja, hingga akhirnya benar-benar menjadi milyuner Madinah. Bahkan tidak berlebihan jika disebutkan bahwa kehadiran Abdurrahman bin Auf mengakhiri dominasi dan monopoli kaum Yahudi di pasar Madinah. Bisa dibayangkan, dalam sebuah kesempatan saat rombongan dagang beliau sampai di Madinah, seluruh penduduk Madinah terguncang karena gemuruh suaranya. Mereka mengira angin topan bertiup dengan kencangnya, padahal yang sesungguhnya terjadi adalah kedatangan 700 ekor unta yang penuh dengan barang dagangan Abdurrahman bin Auf!!

Sungguh decak kagum saja tidak akan pernah usai saat melihat gambaran kehebatan dan kiprah shahabat dalam dunia bisnis. Mari sejenak kita sisihkan waktu, untuk mengambil inspirasi apa yang sesungguhnya mereka lakukan, hingga mampu mengelola bisnis dengan hebat, sekaligus sebagai pendukung dakwah Rasulullah yang tangguh. Simak panduan singkatnya berikut ini:

Pertama: Jiwa Kemandirian

Kunci sukses perdagangan shahabat dimulai dari jiwa kemandirian yang luar biasa. Mereka tidak bertopang dan menggantungkan diri kepada orang lain. Gambaran ini bisa kita dapatkan dengan jelas dari kisah hijrahnya Abdurrahman bin Auf. Adalah seorang jutawan Madinah bernama Sa’ad bin Rabi Al-Anshory yang dipersaudarakan oleh Rasulullah dengan Abdurrahman bin Auf, ia menawarkan pinjaman lunak kepada saudaranya begitu tulus, “Saudaraku! Saya adalah salah seorang penduduk Kota Madinah yang punya banyak harta, pilihlah dan ambillah sebagian hartaku!!”

Lihatlah tawaran yang indah dan menjadi impian setiap pedagang benar-benar sudah ada dihadapan. Tak perlu lagi birokrasi, proposal usaha, jaminan, surat rekomendasi dan semacamnya. Pengembaliannya pun begitu lunak nyaris tanpa jangka waktu tertentu. Namun apa jawab Abdurrahman bin Auf. Semangat dan jiwa kemandiriannya segera menolak seraya mengatakan, “Semoga Allah memberkahi keluarga dan hartamu, tetapi cukup tunjukkan saja kepadaku dimana letak pasar?”

Sungguh penolakan ini bukanlah kesombongan, tapi tekad dan semangat kuat untuk mandiri. Hal ini kemudian dibuktikan, bagaimana ia segera memulai kiprahnya di pasar Madinah sedikit demi sedikit, hingga akhirnya menjadi pemasok utama barang dagangan di Madinah. Tidak berlebihan ketika kemudian ia pun memberikan testimoni tentang keberhasilannya.

Kedua: Senantiasa Mengingat Allah dan Taat Beribadah

Meskipun kesibukan dan aktivitas dagang yang luar biasa, para shahabat tidak lalai dengan kewajiban ibadah dan dzikrullah. Mereka semua dalam kondisi ruhiyah yang tangguh, tidak mudah tergoda dengan peluang-peluang dan tawaran duniawi yang berkelebat di depan mata. Begitu indah al Qur’an memuji pedagang yang mulia ini:

“Orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual-beli dari mengingat Allah, dan mendirikan shalat, dan dari membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang hati dan penglihatan menjadi guncang (hari kiamat).” (QS. An-Nuur: 37)

Bukti nyata, suatu ketika bahkan Abdurrahman bin Auf pernah mengimami shalat shahabat lainnya, dan Rasulullah ikut turut serta menjadi makmumnya! Ketika Abdurrahman bin Auf jengah dan ingin mundur, Rasulullah memberi isyarat agar tetap pada tempatnya. Demikian yang dikisahkan dalam kitab Usudul Ghoba, yang ini semua memberi gambaran bagaimana sesungguhnya kapasitas ruhiyah seorang Abdurrahman bin Auf.

Mereka para pedangan di Madinah, meyakini sepenuhnya bahwa kunci kesuksesan berdagang, sebagian besar karena memperbanyak dzikrullah dalam setiap aktivitas dagangnya. Mereka mengingat dan memahami betul panduan bisnis Qurani, Allah berfirman: “Dan ingatlah Allah banyak-banyak supanya kamu beruntung.” (QS. Al-Jum’at: 10)

Ketiga: Pekerja Keras, Mengawali Aktivitas Dagang Sepagi Mungkin

Para bisnisman Madinah meyakini bahwa keberkahan ada di waktu pagi hari. Karenanya mereka senantiasa memulai aktivitasnya di awal pagi, saat tubuh giat dan bersemangat. Rasulullah berdo’a dalam sabdanya: “Ya Allah, berkahilah umatku di waktu pagi harinya.” Beliau juga senatiasa mengirim pasukan di awal pagi sebagai awal kesuksesan. Seorang pedagang Madianah lainnya yang bernama Sohkr al-Ghomidi, bahkan tidak pernah mengirim agen distributor dan marketingnya untuk mulai berkeliling kecuali dimaulai pada sepagi mungkin. Hal inilah yang menjadikan Sokhr sukses dalam berdagangan, dan hartanya jadi sangat banyak. Bahkan disebutkan dalam riwayat Ahmad: karena terlampau banyak harta hasil perdagangannya, sampai-sampai Sokhr pun kebingungan dimana lagi ia harus menyimpan hartanya. Subhanallah...

Keempat : Jujur dalam Berdagang

Kejujuran adalah kunci utama kesuksesan para sahabat dalam berdagang. Rasulullah SAW dalam hal ini senantiasa memandu dan mengawasi mereka dalam menjalankan aktifitas perdagangan. Tak jarang beliau langsung turun melakukan inspeksi pasar untuk mengecek ketersediaan dan kualitas barang. Beliau pun segera menegur saat ada sahabat yang mencoba berlaku curang menyembunyikan cacat barang dagangan yang dimilikinya.  Bukan hanya Rasulullah SAW, bahkan Al-Quran pun turun memberikan panduan dalam perdagangan secara umum. Lihat saja bagaimana surat Al-Muthoffifin turun menghenyakkan hati pedagang Madinah, mengkritik sebagian mereka yang masih berlaku curang tidak memenuhi timbangan dengan baik.  Dengan panduan dan pengawasan seperti inilah, para bisnisman dari golongan sahabat tumbuh mengembangkan bisnisnya tanpa melanggar prinsip kepatuhan syar’i.

Kelima : Tidak mengambil banyak Untung

Salah satu yang membuat tertarik pembeli adalah barang yang murah. Para sahabat mengetahui persis hal ini dan menjadikan sebagai strategi inti dalam perdagangannya. Adalah Abdurrahman bin Auf yang secara gamblang membocorkan rahasia kesuksesannya dalam masalah ini. Disebutkan dalam Kitab Ihya Ulumuddin imam Al-Ghozali, suatu ketika Abdurrahman bin Auf ditanya : “ Apa sebab kemudahanmu dalam berdagang ? “. Maka ia menjawab : “ ada tiga hal saja. Pertama: Aku tidak pernah menolak tawaran untung meskipun sedikit, Kedua : Aku tidak pernah menunda-nunda pesanan satu hewan pun. Ketiga : Aku tidak menjual dengan cara riba “. Dikisahkan pula bahwa suatu hari Abdurrahman bin Auf pernah menjual seribu ekor unta dan hanya mengambil untung harga seutas tali onta dari setiap unta yang terjual. Meskipun harga tali onta itu hanya satu dirham, tapi karena ia menjual 1000 ekor unta, maka seharian itu ia mendapatkan untung seribu dirham ! Subhanallah …

Keenam : Memperluas Wilayah  Pemasaran

Sejak dulu para sahabat tidak berkutat di Madinah dalam menjalankan aktifitas dagangnya. Bahkan kebiasaan Qurays di Mekkah pun sejak jaman jahiliyah adalah melakukan perjalanan dagang ekspor impor dua kali dalam setiap tahunnya, yaitu ke Yaman dan Syam. Begitu pula para sahabat usahawan di Madinah, mereka meyakini sepenuhnya bahwa rejeki Allah tersebar di bumi yang luas ini. Karenanya, bidang ekspor dan impor sejak awal telah mereka garap dengan serius dan mengantarkan kesuksesan mereka dalam berdagang.  Inspirasi qurani yang senantiasa mereka ambil adalah : “Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya” (QS Al Mulk 15)

Ketujuh : Saling bersinergi dan bekerja sama antar usahawan

Kunci sukses sahabat dalam bisnis berikutnya adalah memelihara lingkungan yang kondusif dalam berbisnis. Mereka tidak mengenal istilah kongkalingkong, sikut kanan dan sikut kiri dalam berbisnis, tapi justru sebaliknya tercipta kerja sama dalam saling sinergi yang sangat positif untuk mengembangkan bisnis. Rasulullah SAW sejak awal telah berperan besar dalam menciptakan kelangsungan pasar yang sehat di Madinah. Beliau memberlakukan sekian aturan kompetisi yang sehat dan dinamis, antara lain larangan bagi penjual untuk menawarkan dagangan kepada buyer yang telah menawar dagangan penjual lain. Begitu pula larangan monopoli perdagangan dengan melakukan upaya penimbunan barang langka agar bisa segera naik harganya saat hilang di pasaran. Semua aturan ini tanpa disadari menjadikan iklim usaha di Madinah begitu kondusif dan dinamis.

Kedelapan: Menjalankan Corporate Sosial Responsibility dengan tangguh

Inilah kunci kesuksesan akhir yang begitu tergambar di hadapan kita. Para usahawan dari golongan sahabat tidak hanya berdagang untuk diri sendiri, tapi juga menjalankan kewajiban berbagi dan mensukseskan program-program positif pemerintah. Utsman bin Affan memberikan contoh nyata, dalam mensponsori mobilisasi kaum muslimin dalam perang Tabuk yang membutuhkan pendanaan luar biasa. Disebutkan pada hari itu, Utsman bin Affan menginfakkan setidaknya 900 ekor unta lengkap dengan peralatan perangnya, 100 kuda perang, 200 kantong emas plus uang cash sebesar 1000 dinar. Sungguh jumlah yang amat besar dan mengagumkan Rasulullah SAW hingga beliau pun berujar : “ Sungguh tidak ada lagi yang akan membahayakan Utsman setelah hari ini “.

Kiprah Abdurrahman bin Auf  juga tidak kalah hebatnya. Beliau senantiasa membantu keperluan sahabat sampai akhir hidupnya. Tercatat dalam kitab Usudul Ghoba, bagaimana total sedekah beliau saat beliau masih hidup sebanyak 80.000 dinar, sedekah berupa onta perang sebanyak 1000 ekor, menyediakan tanah bagi istri-istri Rasulullah senilai 40.000 dinar . Bukan itu saja, ketika beliau wafat pun mewasiatkan banyak harta untuk sedekah antara lain : untuk keperluan fi sabilillah sebesar 50.000 dinar, untuk tunjangan veteran perang badar sebesar 40.000 dinar, berwasiat kendaraan dan perlengkapan logistik perang  berupa unta 1000 ekor, kuda 100 ekor dan kambing 1300 ekor. Sungguh luar biasa. Dana ratusan milyar dianggarkan secara khusus untuk berbagi dengan yang lainnya.

Akhirnya, sekali lagi decak kagum tidak akan pernah cukup untuk mengapresiasi kehebatan strategi bisnis para sahabat yang mulia. Mari bersama berusaha menjalankannya sekuat tenaga, agar lebih berkah kehidupan dunia dan akhirat kita. Semoga Allah SWT memudahkan. (Ustadz Hatta Syamsuddin, Lc.)

Sumber gambar: 
- http://halaqohdakwah.files.wordpress.com/2008/07/kilafah.jpg
Sumber artikel : 
- http://www.indonesiaoptimis.com/2010/10/panduang-bisnis-hebat-ala-sahabat.html
- http://www.indonesiaoptimis.com/2010/10/panduan-bisnis-hebat-ala-sahabat-bagian.html

Meningkatkan BER Jamur Tiram

Berapa nilai BER (biological efficiency ratio) rata-rata pekebun jamur tiram? Tak lebih dari 30%. Dengan persentase itu produksi tiram hanya 300 - 400 g per 1 kg baglog. Padahal nilai BER dapat didongkrak hingga 40 - 45%.

BER menunjukkan kemampuan satu satuan substrat (baglog basah) menghasilkan satu satuan tubuh buah jamur dalam 1 periode tanam. Makin tinggi nilainya makin baik karena berarti produktivitas per baglog makin tinggi. Selama ini pekebun jarang memperhatikan nilai BER. ‘Padahal nilai BER berpengaruh besar pada produksi jamur,’ kata Dr Iwan Saskiawan, peneliti jamur dari Pusat Penelitian Biologi LIPI di Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Bila nilai BER naik hingga 45%, artinya, produksi Pleurotus ostreatus mencapai 450 g per baglog.

Ada beberapa cara untuk menaikkan nilai BER. Rachmatullah SP, pekebun di Bogor, Jawa Barat, menyebutkan bibit berkualitas mutlak dipakai. Cirinya pertumbuhan misellium rapat dan merata. ‘Bibit juga terlihat segar dan tidak terlalu padat,’ kata alumnus Institut Pertanian Bogor (IPB) itu. Bibit padat atau penuh pertanda sudah terlalu tua.

Media tanam

Hal penting lain adalah media tanam. Tiram jamur kayu yang tumbuh di media kayu lapuk. Oleh karena itu pekebun menggunakan substrat berbahan serbuk kayu gergaji sebagai media. Serbuk kayu terbaik berasal dari jenis kayu albasia atau sengon dan suren. Karena cepat lapuk. ‘Waktu pengomposan cukup 5 - 7 hari. Sementara kayu keras perlu 10 - 14 hari sebelum digunakan,’ kata Iwan, doktor biologi dari Kyoto University di jepang itu.

Pengomposan membantu memecah atau memotong beberapa senyawa gula rantai panjang di tubuh kayu seperti lignin, hemiselulose, dan selulose menjadi senyawa gula  rantai pendek atau monosakarida seperti xilosa dan glukosa. Setelah terpecah tiram lebih mudah memanfaatkannya. Jamur keluarga Tricholomatacea itu tak memiliki klorofil sehingga memenuhi kebutuhan nutrisi dari hasil pelapukan kayu. ‘Semakin tinggi gula reduksi yang dihasilkan semakin mudah jamur menyerapnya,’ ujar Iwan.

Iwan menyarankan bahan substrat terdiri dari 85 - 90% serbuk gergaji, 10 - 15% dedak, 1 - 2% kapur, dan 1 - 2% gipsum. Penggunaan dedak terlalu banyak, di atas 15%, memacu pertumbuhan jamur selain tiram sehingga terjadi kompetisi perebutan nutrisi. Dedak berfungsi sebagai sumber karbon, vitamin B1, dan B2 yang berguna bagi pertumbuhan jamur. Kapur menetralkan pH media.

Menurut Ir NS Adi Yuwono, praktikus jamur di Bandung, Jawa Barat, media terlalu asam membuat tiram mudah layu dan pertumbuhan tudung mengecil. Makanya pH harus dikontrol. ‘Yang bagus berkisar 5,5 - 7,’ kata alumnus Universitas Islam Nusantara, Bandung itu.

Dr Etty Sumiati MS, peneliti jamur di Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa), Lembang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, menyarankan penggunaan campuran 88,5% serbuk kayu albasia, 5% bekatul, 1 - 2% biji milet, 1 - 2% jagung giling kasar, 1 - 2% kapur pertanian (CaCO3), dan 1 - 2% gypsum (CaSO4) untuk menaikkan BER. Kadar air substrat dipertahankan 65% dengan pH 7. ‘Dengan campuran itu nilai BER mencapai 50%,’ ungkap doktor dari Universitas Padjadjaran, Bandung itu.

Lingkungan tepat

Menurut Etty bobot media 1 - 2 kg per baglog paling pas dipakai pekebun tanahair. ‘Jika terjadi kontaminasi lebih mudah penanganannya,’ katanya. Maklum, iklim di wilayah tropis dengan tingkat kelembapan tinggi lebih rentan serangan hama dan penyakit. Di negara subtropis yang kelembapannya rendah hama dan penyakit sulit berkembang. Pekebun tiram di Belanda, misalnya, berani memakai baglog berbobot 7 - 17 kg.

Menurut Iwan angka BER juga terdongkrak jika tiram ditumbuhkan di lingkungan yang tepat. Tiram tumbuh optimal pada suhu 25 - 26oC, kelembapan 80 - 90%, dan intensitas cahaya di kisaran 40 lux menyebar rata di dalam kumbung.

Sirkulasi udara juga harus baik. Jamur berespirasi melepaskan CO2. Jika kadar CO2 tinggi, tangkai jamur panjang, tetapi tudungnya kecil. Sebaliknya bila kadar CO2 rendah, tangkai pendek dan tudung lebih besar. Yang disebut terakhir itulah tipe yang paling diminati konsumen. Bila faktor yang mempengaruhi nilai BER terpenuhi, niscaya produksi tiram 450 g per baglog mudah dicapai. (Rosy Nur Apriyanti)

Sumber artikel dan gambar: trubus-online.co.id dengan judul "Tiram 450 g per Baglog"

Jamur Tiram Strain Baru

Tiga jamur tiram terunggul.Produktivitas membubung hingga 91 ton per 1.000 m2 luas kumbung, hampir dua kali lipat produksi tiram strain lokal.

Ketiga strain baru itu adalah emas, ratu, dan zafira hasil penelitian periset di Balai Penelitian Tanaman Sayuran, yakni Dr Etty Sumiati MS, Ir Diny Djuariah, Dr Ahsol Hasyim, dan Dr Eri Sofiari. Pada pengujung 2011, mereka merilis tiga strain baru itu sehingga memberi secercah harapan bagi para pekebun jamur tiram yang kini marak di berbagai daerah. Para pekebun itu memanfaatkan strain lokal dan menuai rata-rata 200 g jamur per kg substrat (baglog) dalam waktu 3 bulan.

Salah satu penyebab rendahnya produksi adalah kualitas bibit yang tidak terseleksi. Jika mereka beralih membudidayakan strain jamur tiram unggul, emas, ratu, atau zafira, peluang meningkatkan produksi terbuka lebar. Sekadar contoh, produktivitas emas, misalnya, mencapai 91 ton per 1.000 m2. Di kumbung seluas itu, pekebun dapat membudidayakan 180.000 baglog berbobot satu kg jika posisi baglog berdiri, sementara jika berbaring, 260.000 baglog atau produktivitas antara 350—500 gram per baglog.

Produksi stabil

Menurut Etty secara akumulasi tidak ada perbedaan produksi yang signifikan antara baglog berdiri dan berbaring jika strain sama. Posisi baglog berdiri menghasilkan tudung tiram merekah sempurna sehingga bobot bisa maksimal, di atas 500 gram per baglog berbobot 1 kg. Produksi sebuah baglog berbobot 1 kg dengan posisi berbaring hanya 350 gram. Namun, karena populasi meningkat 80.000 baglog dari posisi berdiri, maka secara keseluruhan produktivitas per kumbung pun tinggi.

Mari bandingkan dengan strain lokal. Pada posisi baglog berdiri, menghasilkan 300 gram per baglog atau total 57 ton dari total jenderal 180.000 baglog. Namun, ketika posisi baglog berbaring, maka produksi sebuah baglog rata-rata berbobot 1 kg, hanya 200 gram. Dari uji coba itu, terbukti bahwa ketiga strain jamur tiram baru memang unggul, produksi membubung, di atas 300 g per kg baglog dengan posisi berdiri. Jika bobot sebuah baglog rata-rata 1 kg, maka produksi pun meningkat menjadi di atas 500 gram.

Hebatnya produksi itu stabil sepanjang tahun. Artinya budidaya tiram strain emas pada musim hujan atau kemarau, pekebun akan menuai produksi yang relatif sama. Strain emas mempunyai daya adaptasi luas dari suhu udara 10—270C itu dan masa produksi panjang hingga 3,8 bulan. “Diameter buah pun besar mencapai 8—9,71 cm,” tutur Etty.

Strain ratu mampu beradaptasi dari suhu 10—250C. Produksi ratu mencapai 51,22—81,94 ton per 1.000 m2. Tipe tudung buah strain ratu menyerupai terompet yang lentur sehingga tidak mudah pecah. Waktu awal panen strain ratu hanya 38 hari dan rentang masa produksi mencapai 3,9 bulan. Kadar air ratu 91,62—93,75% sehingga ratu tahan simpan 2—3 hari pada suhu ruangan.

Rendah oke

Strain tiram lain, zafira yang adaptif pada suhu 10—250C, mampu berproduksi 50,48—78,70 ton per 1.000 m2. Tudung buah zafira amat lentur dan berbentuk tiram. Strain zafira mulai berproduksi 37 hari pascainokulasi dan masa produksinya 3,8 bulan. Ketiga varietas itu beradaptasi baik dari ketinggian 700—1.250 meter di atas permukaan laut. Menurut Etty, peluncuran 3 strain tiram unggul itu merupakan kali pertama dalam sejarah budidaya jamur di Indonesia. “Sebelumnya belum pernah ada varietas unggul tiram,” kata Etty.

Para pekebun tiram di dataran rendah tetap dapat membudidayakan trio tiram unggul itu. “Syaratnya menyediakan lingkungan mikro yang sesuai untuk tumbuh kembang tiram,” kata Etty. Tiram menghendaki suhu 10—270C agar tumbuh optimal, kelembapan di atas 80%, dan intensitas cahaya 10% alias remang-remang. Jika semua kondisi itu terpenuhi, ketinggian tempat bukan masalah untuk membudidayakan strain tiram unggul itu.

Etty dan rekan memulai riset tiram unggul pada 2003. Saat itu mereka menguji daya hasil dan daya kualitas 78 strain tiram introduksi. Hasil pengujian antara lain, produksi relatif tinggi, yakni di atas 300 g per kg substrat, konsumen menyukai cita rasa, penampilan menarik, dan tahan simpan 2—3 hari dalam suhu kamar, sekitar 270C. Dari pengujian itu, mereka menetapkan 5 strain unggul berkode 1, 30, 37, 38, dan 46 yang akan menjalani uji multilokasi.

Uji multilokasi pada 2009 itu di 4 lokasi, yakni Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, berketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut; Desa Lebakmuncang, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, (1.000 m dpl), dan Desa Tangkil, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor (700 m dpl). Ketiga sentra jamur itu di Provinsi Jawa Barat. Satu area lagi adalah Desa Gentingsari, Kecamatan Bansari, Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah, berketinggian 850 m dpl.

Etty sejatinya sudah membagikan strain emas kepada pekebun dan pihak terkait di seluruh Indonesia. Para pekebun yang baru mendengar kabar pun tak ketinggalan antusias menyambut kehadiran tiram unggul itu. Pekebun tiram di Indramayu, Jawa Barat, Ito Sumitro, misalnya, berencana memanfaatkannya. Produksi menjulang tinggi memang menjadi daya tarik bagi para pekebun tiram. (Faiz Yajri)

Sumber artikel dan gambar : trubus-online.co.id dengan judul "Tiram Baru Panen Dua Kali Lipat".

Meningkatkan Produksi Jamur Tiram

Satu hal lagi yang menarik bagi saya, ternyata ada beberapa cara yang cukup 'unik' untuk meningkatkan produksi jamur tiram, diantaranya yaitu dengan cara disuntik. Cara tersebut dan beberapa cara lain telah dimuat di situs trubus-online.co.id pada tanggal 3 juni 2010 dengan judul: "Tiram Disuntik Jadi Produktif", pada artikel tersebut, disebutkan ada beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk mendongkrak/meningkatkan produksi jamur tiram. Diantara adalah sebagai berikut:

1. Disuntik

Prof Dr Ir Agus Sugianto ST. MP. bukan seorang praktikus medis. Namun, sejak 2003 dekan Fakultas Pertanian Universitas Islam Malang itu akrab dengan alat suntik. Alat itu bukan untuk menyuntikkan obat kepada pasien, melainkan ramuan nutrisi ke dalam baglog jamur tiram.

Agus menyuntikkan 20 ml nutrisi ramuannya pada media yang telah disterilisasi. Setelah itu, bibit jamur tiram diinokulasikan ke dalam media, lalu disimpan di ruang inkubasi. Pada 30 hari pascaperlakuan, baglog berbobot 1,5 kg itu sudah bisa dibuka untuk menumbuhkan tubuh buah, biasanya 45 hari. Karena masa produksi lebih awal, maka jumlah jamur yang dipanen hingga akhir produksi (biasanya 6 bulan, red) lebih tinggi. ‘Pengalaman pekebun hasil panen meningkat hingga 68,7%,’ katanya.

Ramuan nutrisi itu terbuat dari larutan molase alias limbah pengolahan gula. Satu mililiter molase dengan kadar gula rata-rata 30 - 40% dilarutkan dalam 100 ml air atau konsentrasi 1%. Agus juga menambahkan ragi, vitamin, dan protein untuk memacu pertumbuhan.

Menurut Agus, sel-sel pada jamur tiram memerlukan karbon berantai 6 (C6) untuk pertumbuhan. Kebutuhan karbon itu memang bisa dipenuhi dengan mengurai serbuk kayu dan dedak yang menjadi bahan utama media jamur. Sayang, ‘Susunan karbon serbuk kayu masih terlalu kompleks sehingga butuh waktu lebih lama hingga siap dimanfaatkan,’ ujar Agus. Dengan ramuan itu, Agus memberikan karbon dari gula reduksi yang lebih sederhana sehingga lebih cepat dimanfaatkan untuk pertumbuhan jamur. 

2. Rel kereta 

Di Blitar, Jawa Timur, Agoes Poernomo memanfaatkan getaran dari kereta api yang melintas di dekat lokasi kumbung dan alunan musik. Kombinasi kedua cara itu meningkatkan produksi jamur hingga 4%.

Ide nyeleneh itu terinspirasi kebiasaan waktu kecil. ‘Kata orangtua kalau ada jamur tumbuh di musim hujan, injak tanah di sekitar tumbuh jamur sekeras-kerasnya beberapa kali. Keesokan hari biasanya muncul jamur-jamur baru,’ kata Agoes. Agoes memanfaatkan getaran dari kereta api dan musik untuk merontokkan basidiospora yang terdapat pada lamela di bagian bawah tudung jamur.

Basidiospora yang jatuh di permukaan baglog akan berkecambah membentuk miselium monokariotik alias miselium berinti satu. Miselium itu terus tumbuh hingga membentuk jalinan hifa mirip benang. Hifa itu akan menyatu dengan hifa lain yang kompatibel membentuk hifa dikariotik. Bila kondisi lingkungan memungkinkan (suhu antara 10 - 20oC, kelembapan 85 - 90%, cahaya cukup, dan kadar C02 <1.000 ppm), akan terbentuk tubuh buah.

Menurut Ir NS Adiyuwono, praktikus jamur tiram di Bandung, Jawa Barat, pemanfaatan getaran atau goncangan untuk mendongkrak produksi jamur sudah diterapkan pekebun di Singapura disebut dengan teknologi shifting. Mereka memindahkan baglog setiap hari. Saat pemindahan itu baglog ikut tergoncang sehingga banyak spora jatuh. Cara itu diadopsi para pekebun tiram di Majalengka, Jawa Barat. Hasil pengamatan Adiyuwono, cara itu mempercepat munculnya tubuh buah 2 hari. 

3. Lantunan Al-Quran 

Menurut Agus Sugianto, gelombang suara dari musik menggetarkan molekul udara. Molekul udara yang bergetar akan menggetarkan molekul udara lain. Pada saat yang sama terjadi perpindahan energi antarmolekul. Energi itulah yang memacu metabolisme sel-sel jamur. ‘Penyerapan nutrisi dan aktivitas enzim yang dihasilkan jamur semakin optimal,’ kata guru besar bidang ilmu bioteknologi jamur pangan itu.

Agus membuktikan peran gelombang suara terhadap pertumbuhan jamur. Ia menyetel beragam aliran musik seperti pop dan dangdut, serta lantunan ayat suci Al-Quran di dalam ruang inkubasi. Volume suara diatur hanya separuh dari volume maksimum pada tape. ‘Frekuensinya tidak lebih dari 400 hertz,’ kata Agus.

Hasil penelitian menunjukkan baglog jamur yang diberi lantunan ayat suci saat inkubasi memacu pertumbuhan miselium lebih cepat ketimbang jenis musik lain dan kontrol. Pada hari ke-15, miselium sudah merata di sekujur baglog sehingga bisa dibuka untuk menumbuhkan tubuh buah. Sedangkan baglog kontrol alias tanpa perlakuan butuh waktu 45 hari. Belum diketahui pasti duduk perkara lantunan ayat suci memacu pertumbuhan miselium lebih cepat. ‘Mungkin frekuensi lantunan ayat suci paling ideal bagi pertumbuhan jamur,’ kata Agus. 

4. Medan magnet 

Di Bandung, Jawa Barat, Dr I Nyoman Pugeg Aryantha, ahli jamur dari Sekolah Teknologi Ilmu Hayati Institut Teknologi Bandung (ITB), meneliti peran medan magnet bagi pertumbuhan jamur. Baglog yang sudah diselimuti miselium disimpan dalam inkubator medan magnet yang terbuat dari kumparan solenoida. Kumparan dialiri arus listrik untuk membangkitkan medan magnet.

Hasil penelitian menunjukkan hasil panen dari baglog yang terpapar medan magnet selama 1 bulan, lebih tinggi 50 - 69% dibanding kelompok kontrol. ‘Medan magnet berpengaruh terhadap sintesis protein tertentu yang memacu pertumbuhan tubuh buah jamur tiram,’ kata doktor mikologi dari Universitas Melbourne di Australia itu. Beragam cara itu menjadi pilihan bagi pekebun untuk mendongkrak produksi jamur. ‘Tinggal pilih mana yang lebih ekonomis,’ tutur NS Adiyuwono. (Imam Wiguna/Peliput: Faiz Yajri)
  1. Molase, sumber karbon sederhana untuk mempercepat pertumbuhan jamur
  2. Gelombang suara tingkatkan metabolisme sel sehingga aktivitas enzim dan penyerapan nutrisi optimal
  3. Medan magnet mempengaruhi sintesis protein tertentu yang memacu pertumbuhan tubuh buah jamur tiram
  4. Doktor I Nyoman Pugeg Aryantha, dosen Sekolah Tinggi Ilmu Hayati ITB, dongkrak produksi jamur dengan medan magnet 
Semoga bermanfaat..!!!

Sumber gambar: http://www.trubus-online.co.id/images/resized/images/stories/media044/hal-18-19-3_200_200.jpg


 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha , Car Price in India